Perpustakaan Mengalamat, Toko Buku yang Didapat

Sudah diniatkan kalau liburan sekolah akan meluangkan waktu untuk mengunjungi perpustakaan Japan Foundation (JpF). Niatan ini berasal dari saran seorang kawan ketika saya memposting beberapa foto kiriman Abinya bocah sewaktu tugas ke Jepang, berupa foto rak-rak buku di sebuah toko buku Jepang yang berisi buku-buku komik. “Kayaknya bakalan betah berlama-lama deh ya kalau bisa berada di toko buku tersebut,” tulis saya pada status FB kala itu. status fbShila sangat tertarik begitu diceritain bahwa saya sewaktu masih kuliah suka berkunjung ke JF. Dulu saya pernah menjadi anggota perpustakaan tersebut. Senang aja melihat buku-buku Jepang, baik buku komik, wisata, craft atau kreasi2 kerajinan tangan, bahkan buku fashion jepang. Pokoknya buku all about japan. Walau gak ngerti dengan tulisan huruf kanji, saya menikmati sekali membaca gambar dan foto dalam buku-buku dan majalah Jepang.

Sekarang saya mengajak Ashila, Tsaqif, dan Arifa ke sana. Berbekal info dari website The Japan Foundation, Jakarta untuk mengetahui alamat dan jam operasional, kita menuju Jl. Jenderal Sudirman. Japan Foundation berada di Ged. Summitmas II Lt. 1 dan 2. Dari Depok kita naik CL sampai St. Sudirman, lalu sambung naik busway turun di halte Gelora Bung Karno dari halte Dukuh Atas.

Tadinya kita mau naik Kopaja S66 seperti biasa angkutan umum yang saya gunakan, (jadul banget, yak), tapi kok ditunggu agak lama, tuh bis kopaja gak kunjung datang. Barengan kita ada juga sekelompok remaja putri yang sedang menunggu bis kopaja. Salah satu dari mereka bertanya pada saya, “Bu, bis kopaja masih ada gak, sih? Di sini kan, nunggunya?” Saya gelagapan menjawabnya, karena saya sendiri kurang tahu pasti, “Biasanya sih memang di sini nunggunya. Ngga tau deh, masih ada atau ga. Kita juga lagi nungguin nih…” sambil mikir was-was, iya kali ya udah gak ada trayek bis kopaja jurusan manggarai-Blok M itu. Barusan browsing, tenyata benar bis Kopaja-Metromini sudah tidak boleh melintasi jalan-jalan protokol Jakarta. Ada MRT, Kopaja Bakal Dilarang Melintas di Sudirman-Thamrin. Wah gak update berita, jadi kayak gini deh… Akhirnya diputuskan kita jalan ke halte busway yang lumayan jauh letaknya dari tempat kita menunggu kopaja.

Keluar dari halte Gelora Bung Karno, kita berada pada salah satu JPO yang baru diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, yang bernama sama dengan haltenya. 3 JPO (Bundaran Senayan, Gelora Bung Karno,  Polda Metro Jaya) tersebut mempunyai tampilan bagus berdesain artistik dengan dilengkapi lampu-lampu LED dan menjadi lokasi yang instagramable, terutama pada malam hari, karena lampu sorotnya menyala indah. Gak boleh dong kita melewatkan swafoto di JPO ini walau pun kita ke sininya siang hari. 

Kebingungan mencari Gedung Summitmas membuat kita lumayan cukup jalan bolak-balik, karena saya sedikit lupa letak persis gedungnya di mana, entah itu sebelah kanan atau kiri dari gedungnya British Council. Syukurnya, trotoar di jalan-jalan Sudirman sudah dibuat lebar dan bagus, sehingga pejalan kaki menjadi nyaman berlalu-lalang. Saat ini sudah masuk jam istirahat kantor, jadi banyak orang kantoran yang keluar jalan kaki, mungkin mau ke restoran untuk makan siang.

Ketemu Ged. Summitmas II dengan pengawasan security yang begitu ketat, ketika akan masuk kita harus melewati pintu detector dan tas bawaan diperiksa petugas, lalu menemui resepsionis gedung buat mengutarakan maksud kedatangan kita ke situ. Begitu saya menyampaikan tujuan kita mau Japan Foundation bagian perpustakaan, eh katanya perpustakaannya belum buka. Dengan sedikit shock, saya bertanya pelan, “Apa Mba, belum buka?” Becanda lo Mba, masa iya kita udah jauh-jauh datang ke mari, perpustakaannya belum buka? Saya membatin berusaha tenang dan merasa bingung mengingat-ingat kalau saya sudah buka dan baca info di websitenya terdapat tulisan Japan Foundation open Senin-Jumat 08:30-16:30, kecuali hari libur nasional/libur khusus. Kemudian Mba Resepsionis menawarkan untuk bertanya langsung ke Office Japan Foundation yang berada di lantai 2.

Sesudah melapor kepada resepsionis, kita akan dimintai tanda pengenal, bisa KTP/SIM atau juga Kartu pelajar/mahasiswa bagi pelajar, untuk nantinya kita akan dikasih kartu (sekarang zamannya pakai sistem nge-tap) agar bisa melewati pintu masuk ke area elevator.

Untuk masuk ke Gedung Summitmas ini memang agak ribet. Mungkin prosedur memasuki sebuah gedung perkantoran yang berada pada sepanjang jalan Sudirman-Thamrin sebenarnya sama saja, harus begitu, tetapi terasa menakutkan bagi yang baru kali pertama mengalaminya, terutama Ashila, Tsaqif, dan Arifa. Hal ini menjadi sebuah pengalaman baru buat mereka.

Di lantai 2 kita bertemu resepsionis lagi, yang ini khusus Japan Foundation. Mengulangi mengatakan maksud tujuan, kita mendapat penjelasan bahwa perpustakaan malah justru sudah tutup. Shock saya mendengarnya antara kecewa dan sedih, hah tutup? Harapan Shila pupus sudah, dia semangat ke mari karena kepengen baca buku komik-komik manga. Walaupun sudah dibilangin kebanyakan komik-komiknya tulisan jepang, Shila merasa bukan masalah. “Gak pa-pa, nanti aku translit sendiri,” katanya menggampangkan. Translit sendiri? Yang bener aja, saya mengeryitkan kening. Sangat menyukai manga dan anime, memotivasi Ashila mempelajari huruf-huruf kanji dan belajar Bahasa Jepang secara otodidak meski baru dasarnya saja. Dia pun bercita-cita mau kuliah ke Jepang. Aamiin… Abi dan Umminya hanya bisa mendoakan dan mensupportnya. Nah, kembali ke Mba. “Perpustakaan akan diubah konsepnya menjadi Media Center yang buku-bukunya tidak boleh dipinjamkan, hanya untuk dibaca di tempat,” lanjut Mba menerangkan. “Nanti Media Center ada di lantai 1, sekarang belum buka.”

Pas ditanya kapan akan bukanya? Dia menjawab, “Belum tahu. Sekarang keadaannya masih berantakan, belum selesai dirapikan karena semula perpustakaan yang ada di Gedung Summitmas I baru pindahan ke sini, Gedung Summitmas II.”

Sehabis mendengar itu, anak3 benar-benar ribut dan cerewet, “Ummi, kita gak jadi liat komik? Jadi, kita sia-sia udah ke sini? Trus, ngapain dong, kita udah capek-capek ke mari?” Sebelum bertambah membuat kegaduhan di kantor orang, pertama yang ada di benak saya menghadapi situasi tersebut, “Ayo kita ke mushala dulu. Shalat zuhur, baru kita bicarakan rencana selanjutnya.” ajak saya menenangkan kekecewaan mereka yang gagal melihat dan membaca komik-komik manga.

Nah, saking kaget dan paniknya kita jadi gak sempat berfoto sekali pun deh, yang menandakan keberadaan kita sudah pernah ke Japan Foundation.

Di mushala setelah shalat zuhur dan emosi sudah tenang mereda, kita berdiskusi mau lakukan apa selepas ini. Shila tetap mau cari komik manga di Gramedia, Tsaqif pengen makan, dan Ifa ngikut aja. Oke kalau begitu, kita pergi ke mal yang ada toko buku Gramedia dan bisa makan di salah satu restorannya.

Sesudah kenyang makan, main di FunWorld, Shila kalap beli komik manga (The Promised Neverland vol.1, My Hero Academia vol.11, Full Metal Alchemist vo. 18), Ifa juga memegang komik-komik pilihannya (Komik Next G Squishy Idaman 1 dan 2, KKPK Master Taekwondo), sedangkan Tsaqif tidak mendapat komik incarannya (Komik One Punch Man vol.18) yang sedang kosong. Dan kekecewaan tadi pun telah terobati. Alhamdulillah …. Padahal beberapa hari sebelumnya, kita jalan-jalan ke perpustakaan juga dengan hanya berbekal info dari website pula dan berhasil. Eniwei, kejadian ini sudah menjadi pengalaman yang bisa dipetik buat anak3.

2 thoughts on “Perpustakaan Mengalamat, Toko Buku yang Didapat

    • PS jauh… Kan kmrn itu hari kerja, klo jauh2 pulangnya sore berbarengan jam pulang kantor khawatir berdesakan di CL. Jadi nyari mall yg dekat, yg gampang akses pulangnya…

      Like

Comments are closed.