Posted in Kisah, Renungan

Ikhlas Melepas Anak ke Pesantren

Memang, sudah pasti tidak mudah berpisah dengan anak yang pergi menuntut ilmu dan akan tinggal di pondok pesantren. Jelang keberangkatan anak ke pondok, perasaan hati Ibu terasa gak karuan, campur aduk antara sedih, khawatir, gak tega, namun demi kebaikan bersama, hati harus ikhlas melepasnya. Biar lega dan pikiran tenang, kita harus mengingat kembali tujuan awal mengutus dan mengirimkan anak belajar ke pondok pesantren, maka segeralah luruskan niat.

      Hati saya tergugah ketika dengar taujih dari guru fiqih, Ustadz Bakrun Syafii, mengenai suatu ayat dari Firman Allah,

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

"Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." 
(QS At-Taubah [9]: 122)

      Tadabbur ayat tersebut, beliau mengatakan bahwa pergi jihad itu mulia. Akan tetapi, Allah Swt. memosisikan sama antara pergi ke medan perang dengan pergi belajar memperdalam pengetahuan agama, yang kemudian menjadi duta untuk menyampaikan kepada masyarakat hingga mereka paham, sehingga mereka dapat menjaga dirinya dan memiliki sifat kewaspadaan.

         Hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari ayat tersebut, antara lain:

  1. Menuntut ilmu dan jihad (ke medan perang) adalah sama pentingnya. Allah mensejajarkan posisinya.
  2. Setiap kelompok mengutus duta ilmu untuk belajar agama mengenai syariah, fiqih, dan lain-lain.
  3. Orang yang sudah belajar, ilmu yang didapat bukanlah untuk dirinya sendiri, tetapi dia harus menyampaikannya kepada masyarakat sekitar. Kesalehan seseorang berkaitan dengan orang lain, tidak bisa saleh sendirian.
  4. Mengajarkan kembali hingga masyarakat memiliki sifat kewaspadaan mengenai agama (halal-haram) sehingga mereka bisa menjaga dirinya.

         Saat itu, saya langsung berniat akan mengirimkan salah satu anak kami untuk belajar agama dan saya berdoa Allah mengizinkan niat tersebut dan memudahkannya. Apalagi setelah keadaan pandemi yang melanda negeri ini, kita banyak kehilangan para ulama, guru, pendakwah, maka kita harus menyiapkan generasi penerus dai dengan bidang ilmu apa saja, sesuai minat dan bakatnya. Memang kita tidak bisa memaksakan anak menjadi yang kita mau dan saya hanya bisa berdoa, jika Allah berkenan dan mengizinkan, maka Ia yang akan menggerakkan hati.

Tes Masuk Pesantren

         Proses penawaran sekolah pondok pesantren setelah lanjutan dari sekolah dasar ke anak tidaklah mudah, mengalami negosiasi. Sejak dini, kita mulai sounding mengenai kebaikan-kebaikan pondok pesantren. Kalau anak saya, Tsaqif bersedia masuk pondok pesantren hanya yang dekat dari rumah. Dekat dalam arti lokasi pesantren tidak jauh dengan rumah. Rumah berada di Depok, maka pesantrennya harus yang berlokasi sekitaran Depok, bisa wilayah Bogor, Serpong, Sentul, Tangerang, dan termasuk Depok itu sendiri. Jadi gak mungkin pesantren yang berada di Kuningan, Subang, Indramayu, apalagi Jawa Tengah, atau Jawa Timur. Terseleksilah pilihan pesantren yakni Al-Kahfi Cigombong, Darul Quran Mulia Gunung Sindur, Madinatul Quran Jatimulya Depok, dan Al-Abror Cilodong Depok. Singkat cerita, Tsaqif berjodoh dengan Pesantren Sains Quran Al-Abror, Cilodong Depok. Memang dengan posisi pondok yang tidak jauh dari rumah memudahkan kita menengok anak.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." 
(QS. Al-Baqarah [2]: 216)

فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

"(maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." 
(QS. An-Nisaa [4]: 19)
Pembelajaran Jarak Jauh (Sekolah Daring)

         Pesantren sempat mengalami PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh/sekolah secara daring) selama hampir 1 bulan karena PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) dari Pemerintah ketika keadaan penyebaran Covid 19 sedang tinggi untuk daerah Jakarta dan Depok. Salah satu Ustadznya pernah menulis status di sosmed,

PPKM diperpanjang, lembaga pendidikan masih belum diizinkan (pembelajaran) tatap muka. Mungkin bagi sekolah umum tidak terlalu berat, tapi bagi kami, lembaga pendidikan yang berbasis pesantren sangat sangat terhambat dan begitu berat. Karna (dalam) pesantren yang ditransfer bukan hanya ilmu, tp akhlaq, aqidah, dan kemandirian. Itu semua harus praktik lapangan dan harus ada pendampingan.. Kalo mesantren tp tinggalnya di rumah, (lalu) apa yang mau kita bimbing?, apa yang mau kita arahkan?, apa yang mau kita dampingi?, kita hanya bisa mendampingi lewat sosmed. Akankah ada kesan? Akankah ada pengaruh?  Pandemi ini memaksa kita untuk mengubah segalanya… Wahai Rabb, jiwa ini hanya milikMu dan alam ini pun milikMu… Apapun yang terjadi semua atas kehendakMu. Wahai Rabb, mudahkanlah kami dalam segala urusan kami…. Semoga pandemi ini cepat berlalu. Dan kita bisa beraktivitas seperti biasa, pesantren mulai diperbolehkan….
Tes Swab buat masuk pesantren

     Syukur, kegiatan pesantren sudah diperbolehkan berlangsung sebagaimana mestinya. Pengaturan kedatangan santri yang akan masuk ke pondok dilakukan secara bertahap, dimulai dari kelas 7 terlebih dahulu, lalu selang 1 bulan disusul kelas 8 dan kelas 9. Hari keberangkatan Tsaqif mulai masuk pondok pesantren pun tiba. Dengan syarat protokol kesehatan berlaku, seperti salah satunya melakukan swab test terlebih dahulu.

Packing persiapan masuk pesantren

        Ternyata begini perasaan para ibu berpisah dengan anaknya yang sedang mondok. Hari pertama, seharian mewek terus kepikiran anak di sana, bagaimana kesehariannya, apa bisa mengurus dirinya sendiri, apa doyan dengan makanan yang disediakan, bagaimana kalau tidak bisa tidur, ah segala macam pikiran aneh-aneh berseliweran di kepala. Kata orang, kalau kita kepikiran anak terus, nanti anak di pondok juga akan gelisah. Nyetrum, istilahnya. Dan benar, hari ketiga saya dapat message voicenote di Whatsapp dari Ustadz Musyrif kamarnya Tsaqif. Ada beberapa barang keperluan yang kurang, tapi Tsaqif mengatakannya sambil nangis terseguk-seguk. Hati Ibu mana yang gak sedih mendengar suara anak menangis begitu. Langsung pikiran macam-macam ada di kepala, ada apakah gerangan yang membuat anak ini nangis?

         Ustadz mengatakan kemungkinan penyebabnya adalah rasa kangen yang sedang melanda. Hal yang wajar, jika anak yang baru masuk pondok akan menangis, apalagi ini belum ada sepekan berpisah dengan orangtua dan keluarga. Lalu kami pun diperbolehkan menengok bertemu sebentar, sekadar mengobati rasa kangen. Ustadz menyarankan kepada orangtua ketika menemui anak agar tidak menunjukkan perasaan sedih juga, melainkan dengan menampilkan raut wajah sumringah, sehingga akan menenangkan anak untuk berpisah dengan keluarga.

         Jika perasaan rindu sedang menyerang, saya hanya bisa berdoa kepada pemilik hati, Rabb semesta alam. Ya Rahman, Rahim… Mohon berkenan memberi anak kami kemudahan dalam menjalankan hari-harinya di pondok. Sayangi dan lindungi dia di sana.

         Saya berdoa, Allah Swt yang sudah membuka hati anak ini sehingga mau masuk ke pondok pesantren, juga berkenan menolongnya. Dia sedang berjuang melakukan perbuatan mulia, yang Allah samakan posisinya seperti jihad, sesuai yang sudah dijelaskan di atas.

       Hal ini menjadi peristiwa penting. Kebetulan hari pertama kedatangan santri di pondok berdekatan dengan peringatan Tahun Baru Islam Hijriyah. Sejarah mengatakan Muharram merupakan bulan munculnya tekad hijrah ke Madinah setelah pada Dzulhijjah terjadi Baiat Aqabah I. Peristiwa hijrah Nabi Muhammad beserta para pengikutnya menjadi titik awal tahun Hijriyah yang merupakan peristiwa besar dalam sejarah awal perkembangan Islam. Dalam peristiwa hijrah tersebut terjadi proses pengorbanan dan perubahan besar yang dilakukan Nabi Saw. dan umatnya.

         Begitu pun dengan anak yang berkeinginan menjadi santri dan bersedia tinggal di pondok pesantren, maka bisa dikatakan juga sebagai peristiwa hijrah bagi dirinya sendiri. Dia sudah melakukan pengorbanan dan perubahan besar dengan hijrah meninggalkan zona nyaman yang selama ini sudah dia dapatkan ketika berada di rumah. Dia berjuang untuk menjadi insan yang lebih baik dan siap menjadi pembelajar kehidupan.

Teman sekelas

         Karunia Allah memperoleh hal tersebut, suatu anugerah besar yang harus disyukuri. Sesuai hadist Nabi, salah satu keutamaan menuntut ilmu adalah membuat kita lebih takwa kepada Allah Swt. dan mendapat kemudahan jalan menuju surga.

.مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا , سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الجَنَّةِ

(رَوَاهُ مُسْلِم)

“Barangsiapa menempuh satu jalan (cara) untuk mendapatkan ilmu, maka Allah pasti mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Author:

Ibu dari tiga anak yang menerima order layout/setting buku. Sebagian hasil karyanya bisa dilihat pada FP www.facebook.com/pages/Alfaz-Creation/265018896864395. Juga jualan buku di http://www.facebook.com/gbb.aliafazrillah, silakan mampir...