Ketika Kelelahan Melanda

Ketika kelelahan melanda seorang ibu, tetapi tak punya tempat mencurahkan keluh kesah, maka stres yang akan muncul. Bisa jadi anak-anak yang menjadi tempat pelampiasan kemarahan dengan tiada henti, bahkan mungkin yang tak terkendali sekalipun. Na’udzubillahi min dzalik. Hanya harapan yang tersisa, semoga kewarasan tetap ada.

a-tired-woman

Lelah badan mungkin bisa gak dirasa, jika lelah hati tercurahkan. Lalu pada siapa kita bisa mencurahkan kesumpekan hati? Yang paling memungkinkan, tidak lain dan tidak salah adalah kepada suami.

exhausted-woman

Ustad Salim A. Fillah dalam video ceramahnya—yang pernah saya dapat broadcast-nya dan saya tonton berulang-ulang kalau suasana hati sedang gundah—mengatakan bahwa para suami harus mempunyai keterampilan, yang penting untuk dipelajari, sebelum memasuki pernikahan yaitu keterampilan mendengarkan curhat, terutama curhatan istri. Karena sangat tidak banyak suami pandai mendengarkan curhat, apalagi curhat istrinya. Ada suami yang bisa mendengarkan curhat teman sekantor, tapi kalau giliran istrinya yang curhat, dalam benak si suami selalu berkeluh, “Ah, gitu aja diceritain, pentingnya di mana? Perasaan cerita ini sudah berkali-kali diomongin.” Padahal setiap kali istri bercerita seharusnya menganggap betapa pentingnya urusan itu, seolah-olah bisa menyebabkan Perang Dunia ketiga. Walaupun sudah beberapa kali diomongin, tetaplah menganggap bahwa ceritanya baru pertama diungkapkan sehingga istri bisa menerima respons yang mengenakkan. Hal ini merupakan benteng terkuat dari persoalan-persoalan yang bisa mengancam keutuhan rumah tangga. Menjadi suami pendengar yang baik, menyimak dengan saksama sambil mengangguk-anggukkan kepala dengan mengucapkan, “Masya Allah…. Oh, begitu ya…” Memang berat untuk melaksanakannya, perlu latihan serius.

Menurut Ustad Salim, konflik rumah tangga banyak terjadi bukan karena kurangnya cinta, tetapi kurangnya ilmu tentang cinta, yaitu termasuk di dalamnya ilmu tentang mendengarkan, ilmu tentang menyimak tangis. Perhatikan para suami, jika masih sering mengatakan kepada istri “Buat apa kamu menangis? Menangis tidak menyelesaikan masalah”, maka sebenarnya ucapan tersebut bisa menjadi potensi konflik. Sebab lelaki yang dipuja wanita adalah lelaki yang tidak pernah menyuruh untuk menghentikan tangis, apalagi menanyakan buat apa menangis. Lelaki yang dipuja wanita, cirinya adalah menyediakan tempat yang paling nyaman untuk menangis sampai tuntas di bahunya, di sandarannya. Hal ini yang terdapat pada diri Rasulullah Saw. Wanita itu selalu mencari telinga untuk didengarkan curhatnya. Jika Anda tidak mendengarkannya, maka dia akan mencari telinga lain. Karenanya, ini merupakan keterampilan penting bagi para lelaki.

Begitu ceramahnya Ustad Salim yang saya coba salinkan. Sayangnya, saya gak bisa meng-up load videonya di sini  😦

Adem deh, ngedengerinnya… 🙂 Tapi ya itu, kadang kenyataan gak seindah harapan. Suami yang diharapkan bisa mendengarkan curhatan istri, sampai di rumah selepas pulang kerja kecapekan gak ketulungan. Melihatnya kasian juga sih, dia sudah capek kerja. Boro-boro mendengarkan tetek-bengek, begitu sampai rumah kadang dia langsung tertidur di sofa. Nah, jadi cerita sama siapa lagi dong? *nanya ama cermin* Eh… 😉 Mau curhat kepada teman dekat, rasanya gak enak hati kalo segala urusan remeh-temeh kayak gini cerita ke orang. Lah dia juga pasti ngalamin hal yang sama. Lagipula, seumuran emak-emak udah gak punya teman curhat seperti laiknya waktu kita sekolah, eh saya sih maksudnya yang memang gak punya temen deket banget… Lantas solusinya paling kita curhat sama Allah. Dalam shalat malam, kita bisa mengeluarkan semua keluhan yang menyesakkan dada bercerita kepada Allah dengan segala tangisan. Beneran deh, enak banget curhat sama Allah. Hati jadi plong… Karena bagaimana pun juga, hal yang wajar kalau kita merasakan kelelahan dan pengen banget mengeluarkan segala keluh kesah.

Ternyata ada lho, kelelahan yang disukai oleh Allah. Sungguh Allah sangat memaklumi kalau hamba-Nya merasa kelelahan, jika dalam menjalaninya dengan ikhlas, maka akan menerima imbalan. Apa saja tuh kelelahannya, yang saya dapat dari catatan mengaji, yaitu:

  1. Lelah dalam berjihad di jalan-Nya

Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung. (QS At-Taubah [9]:  111)

Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal. QS Ali Imran [3]: 160)

  1. Lelah dalam berdakwah/mengajak kepada kebaikan

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembirakan kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”

Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta.

Sebagai penghormatan (bagimu) dari (Allah) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?” (QS Fussilat [41]: 30-33)

  1. Lelah dalam beribadah dan beramal saleh

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS Al-‘Ankabut [29]: 69)

  1. Lelah mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, dan mendidik putra/putri amanah Ilahi

Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu. Hanya kepada Aku kembalimu. (QS Luqman [31]: 14)

  1. Lelah dalam mencari nafkah halal

Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung. (QS Al-Jumu‘ah [62]: 10)

  1. Lelah mengurus keluarga

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS At-Tahrim [66]: 6)

  1. Lelah dalam belajar/menuntut ilmu

Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,” tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!” (QS Ali ‘Imran [3]: 79)

Asbabun Nuzul: Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dan Baihaqi, bersumber dari Ibnu Abbas, bahwa ketika pendeta-pendeta Yahudi dan kaum Nasrani Najran berkumpul di hadapan Rasulullah Saw. dan diajak masuk Islam, berkatalah Abu Rafi’ Al-Quradzi, “Apakah Tuan menginginkan agar kami menyembah Tuan seperti Nasrani menyembah Isa?” Rasulullah menjawab, “Ma’âdzallah (Aku berlindung kepada Allah daripada itu).” Maka, Allah menurunkan ayat 79-80 ini sebagai sanggahan bahwa tiada seorang Nabi pun yang mengajak umatnya untuk menyembah dirinya sendiri.

  1. Lelah dalam menghadapi ujian kesusahan, kekurangan, dan sakit

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS Al-Baqarah [2]: 155)

Semoga kelelahan dan kepayahan yang kita rasakan merupakan bagian yang mendapatkan janji Allah.

Nah, jadi gak apa-apa kan kalau kita merasakan kelelahan yang ada di atas itu. Cuma, janganlah kita berlarut-larut dalam berkeluh kesah. Jika kelelahan benar-benar sudah melanda, maka rehatlah sejenak, tenangkan pikiran dan hati dengan mengingat Allah melalui shalat malam kita. Insya Allah, setelahnya hati kita akan kembali tenteram.

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah! Hanya dengan mengingat Allah-lah, hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d [13]: 28)

***