Bersakit-sakit Dahulu, Bersenang-senang Kemudian Dengan Liburan Impian Keluarga

Bukan sedang membahas peribahasa yang biasa kita pelajari dalam Bahasa Indonesia.

“Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian – bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Artinya: Kesenangan atau kekayaan itu tidak datang dengan sendirinya, harus diusahakan dengan susah payah dan kerja keras.

Akan tetapi memang dalam artian sebenarnya. Jadi ceritanya, hampir 1 bulan virus varicella bersemayam di rumah menjangkiti anak-anak, sehingga kami tidak bisa mengikuti acara tahunan dari sekolah Family Gathering. Anak satu sakit cacar air, selang dua minggu kemudian dua anak lainnya sekaligus tertular. Alhamdulillah ala kulli hal, ketika anak-anak sehat, kami mendapat undangan Family Gathering yang lain, bertualang ke JungleLand. Wuidih… tak terkira gembiranya hati kami, terutama anak-anak, pengobat kecewa setelah sembuh dari sakit. Ketika kami tidak mendapat FG yang lalu, Allah mengganti dengan FG lain yang lebih baik. Itulah kita harus selalu berprasangka baik terhadap Allah yang memang Mahatahu yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya, seperti dalam Al-Qur’an yang mengatakan bisa jadi kita suka terhadap sesuatu padahal hal itu belum tentu baik menurut Allah, begitu juga sebaliknya kita tidak suka sama sesuatu yang menurut Allah yang terbaik.

Continue reading

Cempungkan Diri Aja Dulu, Nanti Juga Akan #BeraniLebih Pede (Percaya Diri)

Ketika kita belajar sudah menempuh waktu yang cukup lama, kadang mulai muncul tuntutan untuk menuangkan ilmu yang kita dapat kepada yang lain. Dan tuntutan ini terus mengikuti saya. Guru saya berkali-kali mengatakan bahwa kita harus mengajarkan kembali, yang juga selalu saya abaikan anjuran tersebut. Alasannya semata-mata hanya karena ketidakyakinan akan kemampuan saya sendiri. Da saya mah apa atuh 😉 *ngga pake nyanyi, ya* saya mah siapa atuh, murid yang masih juga bodoh dan belum tahu banyak, masa iya, mau ngajarin orang… *nunduk pelintirin ujung jilbab*

Namun, guru saya terus meyakinkan kalau kita bisa memberikan sesuatu yang kita miliki walau itu hanya sedikit. Akhirnya kesempatan itu datang dengan sendirinya, setelah melewati segala kekhawatiran mengajak dan menawarkan diri. Tiba-tiba seorang ibu muda, tetangga meminta untuk belajar mengaji pada saya.

Continue reading

Kincir Raksasa

image

Berada dalam Bianglala Jungle Land, Sentul City

Hidup bagaikan berada dalam kincir raksasa (bianglala), kadang di atas dan juga adakalanya di bawah. Semua harus dihadapi dengan syukur dan sabar disertai pula senyuman, sehingga bisa menjalaninya dengan hati lapang.
Apabila kita sedang berada di atas, mendapat rezeki yang berlimpah, maka kita perlu menyikapinya dengan bersyukur kepada Allah Ar-Raazaq. Sikap syukur akan menambah rezeki berikutnya. Begitu juga, ketika kita sedang berada di bawah, memperoleh rezeki yang kurang, maka kita harus menyikapinya dengan bersabar sehingga Allah mencintai kita dan memberikan jalan keluar terhadap kesulitan yang dialami.

Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu. (QS At-Talāq [65]: 3)

Lihatlah Sekeliling

Melihat ke atas memang indah, tapi kalau keseringan akan bikin mata silau dan akhirnya jadi pusing kepala. Maka sesekali cobalah lihat ke bawah dan sekeliling kita, banyak yang patut disyukuri. Kita bisa menghindar ketika ada batu yg akan menyandung langkah, begitu pula kita bisa menyaksikan banyak yang indah seperti warna-warni bunga.