Cempungkan Diri Aja Dulu, Nanti Juga Akan #BeraniLebih Pede (Percaya Diri)

Ketika kita belajar sudah menempuh waktu yang cukup lama, kadang mulai muncul tuntutan untuk menuangkan ilmu yang kita dapat kepada yang lain. Dan tuntutan ini terus mengikuti saya. Guru saya berkali-kali mengatakan bahwa kita harus mengajarkan kembali, yang juga selalu saya abaikan anjuran tersebut. Alasannya semata-mata hanya karena ketidakyakinan akan kemampuan saya sendiri. Da saya mah apa atuh 😉 *ngga pake nyanyi, ya* saya mah siapa atuh, murid yang masih juga bodoh dan belum tahu banyak, masa iya, mau ngajarin orang… *nunduk pelintirin ujung jilbab*

Namun, guru saya terus meyakinkan kalau kita bisa memberikan sesuatu yang kita miliki walau itu hanya sedikit. Akhirnya kesempatan itu datang dengan sendirinya, setelah melewati segala kekhawatiran mengajak dan menawarkan diri. Tiba-tiba seorang ibu muda, tetangga meminta untuk belajar mengaji pada saya.

“Ibu, kalau mengaji di mana?” tanyanya suatu hari. Dia tahu saya ada jadwal pergi mengaji tiap pekan.

“Oh, cukup jauh juga dari sini,” jawab saya. “Memangnya ada apa?” Heran juga, kenapa dia tanya-tanya.

“Saya belum bisa baca Al-Qur’an. Kalau saya mau belajar mengaji sama Ibu, bisa?” tanyanya kembali.

Glek. *nelen ludah yang sebenernya kering* Saya sempat terperanjat juga mendengar pertanyaannya, antara bersyukur dan bingung. Bersyukur, saya tidak perlu repot-repot mengajak tetangga sekitar rumah untuk kumpul duduk bareng, kita sama-sama belajar mengaji yuk, tapi tawaran itu datang sendirinya. Cuma saya juga bingung, apakah saya bisa mengajarkan mereka sedangkan saya belum tahu apa-apa. Kemudian saya pun terngiang-ngiang cerita guru saya, kurang lebih begini ceritanya,

Alkisah, ada 3 orang ingin menyebrangi sungai yang arusnya deras sekali. Untuk itu harus ada satu orang yang terlebih dahulu membawa ujung seutas tali yang akan diikatkan pada batang pohon di seberang mereka, sehingga yang lain bisa menyusul dengan berpegangan tali yang akan terbentang nanti. Namun di antara mereka tidak ada yang mau menyebrang duluan, karena rasa ketakutan mereka begitu besar. Selagi mereka ribut saling menunjuk, tiba-tiba ada yang tercebur dan membawa ujung tali sedangkan ujung tali lainnya segera dipegang teman-temannya. Akhirnya tali pun terbentang. “Terima kasih, ya. Wah, kamu hebat!” puji teman kepada orang yang sudah memberanikan diri menyebrang duluan. “Sebenarnya, tadi aku terpeleset, bukannya sengaja menceburkan diri,” jelasnya sambil menggerutu. *tampang kesel*

Hikmah dari cerita tersebut, kadang kita sudah dihinggapi rasa ketakutan dan kekhawatiran sebelum melakukan sesuatu. Oleh sebab itu, kita harus berani mencempungkan diri terhadap situasi dan keadaan. Kalau tidak, selamanya kita akan terkurung rasa takut.

Dengan mengucap basmalah, saya pun menyanggupi permintaan ibu tetangga tadi untuk mengajari mengaji. Dan saya pun harus #BeraniLebih pede a.k.a percaya diri, kalau saya bisa membina dan menuntun ibu-ibu belajar membaca Al-Qur’an.

Benar ada yang pernah bilang, “Mengajar, berarti belajar.” Dengan mengajar, secara tidak langsung kita belajar kembali, banyak membaca, mencari referensi.

Semoga Allah memberikan kemudahan dan memperlancar lisanku dalam menyampaikan ilmu yang sedikit ini.

 ***

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Tulisan Pendek #BeraniLebih di Blog. http://www.meetup.com/lightofwomen/messages/boards/thread/48861990

light of women
Kompetisi Tulisan Pendek di Blog

FB: Alia Fazrillah

Twitter: @aliafazrillah

Instagram: aliafazrillah

4 thoughts on “Cempungkan Diri Aja Dulu, Nanti Juga Akan #BeraniLebih Pede (Percaya Diri)

Comments are closed.