Ayah Bunda Ajak Aku ke Surga

Beberapa pekan yang lalu, POMG sekolah anak saya mengadakan acara Parenting Seminar yang bertemakan “Ayah Bunda Ajak Aku ke Surga” dengan pembicaranya Ustad Bendri Jaisyurrahman. Tidak hanya orangtua siswa sekolah SDI Ramah Anak saja, melainkan untuk umum pun bisa menghadiri acara ini. Supaya bisa menolak lupa, saya coba resumekan inti isi seminar tersebut.

06ajak ke surga

Dengan tema yang sudah disebutkan di atas, sebenarnya terkesan bombatis. Apakah sudah yakin kita sebagai orangtua akan masuk surga? Kata panitianya, tema itu dipilih sebagai harapan bahwa kita ingin masuk surga bareng-bareng dengan seluruh anggota keluarga. Nah, untuk masuk surga oleh Ustad Bendri dijelaskan komponen-komponennya.

A. Visi Utama Keluarga

1. Terbebas dari Api Neraka

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS At-Tahrīm [66]: 6)

2. Berkumpul bersama di Surga

Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya. (QS At-Tūr [52]: 21)

Di sini, Ustad menjelaskan jodoh terbagi 3:

  • Jodoh di dunia, tapi tidak di akhirat.

Ini seperti pasangan Asiyah dan Fir’aun. Semua sudah tahu kan kisah tentang Fir’aun, sedangkan Asiyah merupakan perempuan yang dijamin Allah masuk surga.

  • Jodoh tidak di dunia, tapi di akhirat

Kalau yang ini untuk para jomblo yang belum mendapat jodoh di dunia dan sudah keburu meninggal, namun tak perlu khawatir ya karena di akhirat pasti sudah menanti jodohnya.

  • Jodoh di dunia dan akhirat

Untuk yang ini adalah jodoh yang ideal yang diharapkan semua orang. Kita bersama lagi dengan pasangannya ketika di akhirat nanti, yaitu pasangan suami-istri yang saleh-salehah.

B. Akhirat sebagai tujuan

  1. Dan carilah (kebahagiaan/pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia. (QS Al-Qasas [28]: 77)
  2. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. (QS Al-A’lā [87]: 17)
  3. Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Isma‘il, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya. (QS Al-Baqarah [2]: 133)

C. Mulai dialog tentang surga setiap hari

  1. Dialog antarrakyat menunjukkan visi asli pemimpinnya (Ibnu Jarir Ath-Thabari)
  2. Dialog antaranak adalah cerminan visi orangtua. Sesekali kita perlu mendengar/menguping pembicaraan antaranak, apa saja yang biasa mereka omongin. Apakah mereka membicarakan soal film atau tentang liburan atau bahkan mengenai keuangan. Maka itu menunjukkan pembicaraan orangtuanya mengenai seputaran hal tersebut. Karenanya, ada yang perlu diperbaiki diskusi atau percakapan orangtua.
  3. Biasakan berkata kepada anak: Masuk surga bareng, yuk!

D. Mengenalkan karakter penduduk surga

1. Budayakan salam.

Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera dan aman. (QS Al-Hijr [15]: 46) Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang tidak berguna, kecuali (ucapan) salam. Dan di dalamnya bagi mereka ada rezeki pagi dan petang. (QS Maryam [19]: 62)

2. Tidak menzalimi.

Dan barangsiapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedang dia beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dizalimi sedikitpun. (QS An-Nisā’ [4]: 124)

3. Tidak ada dendam.

Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka; mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. (QS Al-Hijr [15]: 47)

4. Suka mengobrol.

Lalu mereka berhadap-hadapan satu sama lain sambil bercakap-cakap. (QS As-Sāffāt [37]: 50)

Begitulah sebaiknya, suami-istri sering berbincang, berkomunikasi dengan saling berhadapan. Bukannya dengan wajah melengos atau malah yang satu sibuk dengan gadgetnya ketika pasangannya mengajak mengobrol.

5. Berkata-kata yang baik.

Di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia maupun yang menimbulkan dosa. (QS Al-Wāqi‘ah [56]: 25)

6. Selalu bersyukur.

Dan mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sungguh, Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Mensyukuri, yang dengan karunia-Nya menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga); di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu.” (QS Fātir [35]: 34-35)

7. Suka berzikir dan ibadah.

Doa mereka di dalamnya ialah, “Subhānakallāhumma” (Mahasuci Engkau, ya Tuhan kami), dan salam penghormatan mereka ialah, “Salām” (salam sejahtera). Dan penutup doa mereka ialah, “Al-hamdu lillāhi rabbil ‘ālamīn” (segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam). (QS Yūnus [10]: 10)

8. Senang menjalin silaturahim.

Lalu mereka berhadap-hadapan satu sama lain sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) pernah mempunyai seorang teman, yang berkata, ‘Apakah sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)? Apabila kita telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?’” Dia berkata, “Maukah kamu meninjau (temanku itu)?” Maka dia meninjaunya, lalu dia melihat (teman)nya itu ditengah-tengah neraka yang menyala-nyala. Dia berkata, “Demi Allah, engkau hampir saja mencelakakanku, dan sekiranya bukan karena nikmat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka). (QS As-Sāffāt [37]: 50-57)

E. Mengenalkan karakter penduduk neraka. (Bertujuan untuk dihindari)

1. Mereka suka berteriak.

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan dahulu.” (Dikatakan kepada mereka), “Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun.” (QS Fātir [35]: 37)

2. Suka bertengkar.

Sungguh, yang demikian benar-benar terjadi, (yaitu) pertengkaran di antara penghuni neraka. (QS Sād [38]: 64)

3. Saling menyalahkan.

Allah berfirman, “Masuklah kamu ke dalam api neraka bersama golongan jin dan manusia yang telah lebih dahulu dari kamu.” Setiap kali suatu umat masuk, dia melaknat saudaranya, sehingga apabila mereka telah masuk semuanya, berkatalah orang yang (masuk) belakangan (kepada) orang yang (masuk) terlebih dahulu, “Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami. Datangkanlah siksaan api neraka yang berlipat ganda kepada mereka.” Allah berfirman, “Masing-masing mendapatkan (siksaan) yang berlipat ganda, tapi kamu tidak mengetahui.” (QS Al-A‘rāf [7]: 38)

F. Menanamkan kecintaan kepada Allah

1. Perkataan Jundub bin Abdullah, “Kami diajarkan lebih dahulu Iman dibandingkan Al-Qur’an. Pada saat kami belajar Al-Qur’an, bertambahlah iman kami. Sementara kalian lebih dahulu belajar Al-Qur’an daripada Iman.”

2. Cinta agama lebih utama daripada bisa.

Menumbuhkan rasa cinta dengan cara orangtua mencontohkan kecintaannya pada agama, seperti:

  • Shalat yang dengan khusyuk dan tidak tergesa-gesa
  • Zikir yang lama. Nanti akan muncul pertanyaan pada si anak, “Kenapa sih Abi kalau sedang zikir lama banget?” Ini karena Abi sayang Allah, jawab sambil tersenyum.
  • Menunjukkan kesungguhan dan kegigihan dalam belajar. Seperti rajin pergi majelis-majelis ilmu walau banyak hambatan yang menghalangi.
  • Membacakan kisah Sahabat Nabi, jangan melulu tentang Superhero yang sekarang ini.
  • Memberi hadiah mengatasnamakan Allah. “Ini Nak, ada tas baru untuk sekolah. Berterima kasih ya sama Allah …”
  • Biasakan dialog dengan Allah dengan bahasa sehari-hari. Berdoa dan mintalah kepada Allah dengan bahasa yang dimengerti anak. “Kenapa sih, kita harus shalat?” Pertanyaan sering dari anak saya. Karena shalat sebagai ungkapan kita untuk berterima kasih kepada Allah. Allah kan baik banget sama kita, kita sudah dikasih rezeki, kita bisa bernafas dengan udara yang banyak ini dan Allah suka sama hamba-Nya (sama kita) yang bersyukur, begitu jawaban sederhana saya.
  • Tanamkan selalu ucapan, “Allah bersamaku, Allah menyayangiku.”

3. Kabar gembira lebih utama daripada ancaman.

Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. (QS Al-Furqan [25]: 56)

Jangan membiasakan mengatakan sesuatu yang menakutkan kepada anak, seperti “Ayo shalat, kalau ngga shalat nanti masuk neraka yang apinya panas.” Sebaiknya ajakan yang lebih menyenangkan, seperti “Ayo Nak shalat, supaya Allah tambah sayang sama kita dan dikasih rezeki yang lebih banyak lagi.”

4. Orangtua sebagai display utama wajah Allah Ar-Rahman Ar-Rahim di muka bumi.

Tunjukkan dari perilaku orangtuanya, sifat Allah yang penyayang dan pengasih kepada anak. Misalkan, saat membangunkan anak pada pagi hari untuk shalat subuh, janganlah dengan cara yang kasar, “Bangun… bangun…!” berkata keras sambil mengguncangkankan badan anak menggunakan kaki. Cobalah dengan cara lembut, sehingga ketika si anak shalat, menghadap Allah dengan perasaan senang.

Begitu juga ketika berada di masjid, kadang anak mendapat teguran keras dari para orangtua. “Hey, jangan berisik! Awas ya, kalau main-main!”

Bagaimana anak bisa mencintai masjid, jika setiap anak-anak berada di sana kerap mendapat omelan seperti itu. Padahal kan, memang karakter anak-anak yang masih suka bermain. Untuk memberitahu sikap, adab yang baik ketika di masjid kepada anak-anak haruslah dengan cara yang lembut, santun, penuh kasih sayang sehingga terwujudkan sifat Allah yang Maha Penyayang dan Maha Pengasih.

G. Mendatangkan keberkahan dalam rumah

1. Membiasakan bangun pagi

Terapkan kebiasaan “Tidur Cepat, Bangun Cepat”. Anak yang bermasalah, susah diatur, lazimnya disebabkan dua hal:

  • Sering bangun kesiangan. Orang yang bangun tidurnya siang, sudah melawan sunnatullah. Firman Allah, “Dan Kami menjadikan tidurmu untuk istirahat, dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian, dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS An-Naba [78]: 9-11)
  • Suka berlama-lama di kamar mandi. Setan senang bersemayam dalam kamar mandi, untuk itu jangan terlalu lama berada dalam kamar mandi.

2. Tilawah Al-Qur’an.

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi (Malam Al-Qur’an pertama kali diturunkan). Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan. (QS Ad-Dukhan [44]: 3)

3. Lokasi rumah dekat dengan masjid

Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim [14]: 37)

Dikisahkan dalam hadis Al-Bukhari: Ibrahim membawa Hajar ketika ia masih menyusui anaknya, Ismail, ke Mekah. Pada saat itu, Mekah adalah tanah kering (tak terdapat air) dan tidak berpenghuni. Lalu Ibrahim meninggalkan mereka di sana dengan sebuah kantung kulit berisi air, dan pulang. Ibu Ismail mengejarnya seraya berkata, “Wahai Ibrahim! Mengapa Anda meninggalkan kami di tempat terpencil ini?” Ia mengulang-ulang pertanyaan itu, tetapi Ibrahim tidak menggubrisnya. Kemudian ia bertanya lagi, “Apakah ini perintah Allah?” Ibrahim menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Jika begitu Dia tidak akan melalaikan kami.”

Itulah alasan Nabi Ibrahim menempatkan Hajar dan anaknya Ismail di Mekah yang merupakan lokasi terdekat dengan Baitullah supaya mereka mendirikan shalat. Doa Nabi Ibrahim yang patut kita amalkan, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS Ibrahim [14]: 40)

4. Makan bersama

Sering-seringlah makan bareng dengan seluruh anggota keluarga, duduk bersama makan berbagi lauk dan saling mencicipi. Kebersamaan ini akan mendatangkan keberkahan dalam rumah.

5. Main hujan-hujanan

Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen. (QS Qāf [50]: 9)

Pada air hujan ada keberkahan, maka bolehlah sesekali orangtua bersama anak-anak main hujan-hujanan untuk menambah keakraban di antara keluarga. 😀

H. Doa yang tak pernah putus

1. Pengikat hati adalah Allah.

Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana. (QS Al-Anfāl [8]: 63)

2. Doa dilafazkan dengan jelas.

Saat bersama anak, selalu melafazkan doa supaya:

  • Mengajarkan shalat tahajud.

Ustad Bendri menceritakan sebuah kisah, ada seorang sahabat Nabi yang tidak bisa mengendalikan kuda yang sedang ditunggangi. Kemudian dia merenung dan menyadari bahwa malamnya dia shalat tahajud dengan kurang khusyuk, tidak sempurna. Begitulah kalau kita kadang mendapati anak yang susah diatur, tidak bisa dikasih tahu, atau tidak menurut kepada orangtuanya, mungkin bisa jadi karena ibadah kita, tahajud kita yang belum benar, jauh dari sempurna. Yuk, kita sama-sama perbaiki ibadah kita…

  • Menunjukkan kepedulian.

Dengan kita berdoa, “Ya Allah, semoga anakku bisa mengerjakan ujiannya, dan Engkau beri kemudahan.” Ketika anak mendengar ibu atau ayahnya berdoa, menunjukkan bahwa orangtuanya peduli dengan keberhasilan anaknya pada suatu ujian sekolah, misalnya.

  • Memberitahukan harapan.

“Ya Allah, semoga anak-anak kami menjadi anak yang saleh dan salehah, pintar.” Anak pun mengetahui doa-doa seperti itu yang merupakan harapan para orangtua.

3. Mengevaluasi hal-hal yang menghalangi doa.

Salah satu penyebab penghalang terkabulnya doa yaitu sumber rezeki yang haram.

I. Tegas terhadap kemaksiatan

Untuk poin ini, saya tertinggal mencatatnya karena keterbatasan waktu, Ustad terburu-buru menjelaskan komponen terakhir. Intinya, selalu budayakan nasehat-menasehati dalam kebenaran dan menolak untuk tidak melakukan kemaksiatan apa pun.

***

Demikianlah sari pati seminar yang bisa saya rangkum. Semoga bermanfaat dan menjadi berkah bagi semua.

2 thoughts on “Ayah Bunda Ajak Aku ke Surga

  1. Waah makasih ya mba share ilmunya, saya suka pengen ikut seminar begini tapi suka ngga konsen karena pasti harus bawa duo bocah, ngga ada yang bisa dititipin

    Like

    • sama2 mba… memang kalo ikut seminar bawa anak suka jadi ga fokus. kalo saya, gantian sama suami jagain anak. giliran saya ikut seminar, suami jaga anak di rumah.
      makasi ya, udah mampir…

      Like

Comments are closed.