Posted in Artikel, Resume

Perjanjian Hudaibiyyah Dalam Pandangan Visioner Nabi Muhammad Saw.

Kalau bukan karena tugas, kayaknya saya ngga kepikiran deh bakalan baca buku sejarah. Ternyata menarik banget baca Sirah Nabawiyah, kita jadi tahu kejadian saat Rasulullah mengalami berbagai peristiwa. Saya kebagian meresume peristiwa Perjanjian Hudaibiyyah. Begini kisahnya,

***

Pada tahun ke-6 H, setelah hijrah ke Madinah dari Mekah, Nabi Muhammad rindu ingin menghadapkan wajah untuk bersujud pada Allah Sang Pencipta di Ka’bah. Seketika Nabi memberitahukan sahabat dan memutuskan pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah umrah dan thawaf. Istri Rasulullah yang ikut adalah Ummu Salamah. Pada bulan Dzulqaidah (Maret 628 M), bersama sekitar 1.400 orang, Rasulullah pergi dengan sama sekali tidak membawa baju zirah atau perlengkapan perang apa pun, mereka mengenakan baju ihram putih dan hanya membawa pedang bersarung.

Namun, kaum kafir Quraisy menghalangi kedatangan Rasulullah dengan cara apapun sehingga Rasulullah harus mengubah rute perjalanan guna menghindari bentrokan fisik dan singgah di Lembah Hudaibiyyah, berada di pinggiran Kota Mekah. Di tempat itu, Rasul menyatakan kepada utusan yang menjadi penengah antara kaum muslimin dan orang Quraisy, Badil bin Warqa’ al-Khuza’i bahwa kedatangannya hanya ingin menunaikan ibadah umrah, bukan untuk berperang. Jika orang-orang Quraisy tetap memerangi mereka, maka Rasulullah tanpa ragu akan memerangi mereka pula.

Bolak-balik orang Quraisy mengirim utusan seakan tidak mempercayai pernyataan Rasulullah tersebut. Kemudian Rasulullah mengutus Utsman bin Affan ra. untuk mengetahui sikap kaum kafir Quraisy dan meyakinkan mereka bahwa tujuan Rasulullah bersama sahabat-sahabatnya berada di Mekah bukan untuk memerangi mereka, melainkan untuk melaksanakan ibadah umrah.

Setibanya di Mekah, Utsman segera menyampaikan misinya kepada para pembesar Quraisy. Selama kaum kafir Quraisy bermusyawarah untuk menetapkan jawaban yang memakan waktu berlarut-larut, Utsman pun ditahan dan ditawari untuk melakukan thawaf yang ditolaknya, karena dia tidak akan thawaf sebelum Rasulullah thawaf. Sementara itu di Hudaibiyah, Rasulullah khawatir menanti Utsman yang juga belum balik membawa kabar jawaban dari kaum Quraisy sehingga tersebar berita di kalangan para sahabat bahwa Utsman bin Affan ra. dibunuh.

Mendengar berita tersebut, Rasulullah segera meminta para sahabat melakukan ba’iat untuk menuntut balas atas kematian Utsman. Bai’at dilakukan di bawah sebuah pohon yang berada di tepi telaga. Ma’qil bin Yasir memegangi salah satu dahannya, sedangkan tangan Rasulullah dipegangi oleh Umar Bin Khattab. Bai’at ini dikenal dalam sejarah sebagai Bai’at Ar-Ridhwan.

Allah Ta’ala menyatakan hal tersebut, “Sesungguhnya Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon.” (QS. Al-Fath [48]: 18)

Ketika kaum Quraisy mengetahui adanya bai’at tersebut, mereka segera mengembalikan Utsman dan mengutus Suhail bin ‘Amru untuk mengadakan perjanjian dengan Rasulullah Saw. Kemudian tersepakatilah perjanjian Hudaibiyyah yang berisi:

“Dengan nama Tuhan. Ini perjanjian antara Muhammad (Saw) dan Suhail bin ‘Amru, perwakilan Quraisy. Tidak ada peperangan dalam jangka waktu sepuluh tahun. Siapapun yang ingin mengikuti Muhammad (Saw), diperbolehkan secara bebas. Dan siapapun yang ingin mengikuti Quraisy, diperbolehkan secara bebas. Seorang pemuda, yang masih berayah atau berpenjaga, jika mengikuti Muhammad (Saw) tanpa izin, maka akan dikembalikan lagi ke ayahnya dan penjaganya. Bila seorang mengikuti Quraisy, maka ia tidak akan dikembalikan. Tahun ini Muhammad (Saw) akan kembali ke Madinah. Tapi tahun depan, mereka dapat masuk ke Mekkah, untuk melakukan tawaf di sana selama tiga hari. Selama tiga hari itu, penduduk Quraisy akan mundur ke bukit-bukit. Mereka haruslah tidak bersenjata saat memasuki Mekkah.”

Ada 4 poin yang bisa disimpulkan dari perjanjian tersebut:

  1. Menghentikan peperangan dari kedua belah pihak selama 10 tahun dan mewujudkan keamanan di tengah masyarakat.
  2. Siapa yang menjalin persekutuan dengan Muhammad dan kaum Quraisy maka dia termasuk bagian dari kedua pihak tersebut. Maka penyerangan yang diarahkan kepada suku-suku tersebut, dianggap sebagai penyerangan kepada sekutunya.
  3. Siapa yang pergi dari kaum Quraisy (Mekkah) dan mendatangi Muhammad (ke Madinah) maka harus dikembalikan (ekstradisi), sedangkan yang pergi dari Muhammad (Madinah) kepada kaum Quraisy (ke Mekkah), tidak dikembalikan.
  4. Tahun ini (6 H), Rasulullah Saw harus kembali ke Madinah (tidak boleh melaksanakan umrah). Tahun depan beliau dan kaum muslimin boleh memasuki Mekkah dan tinggal di sana selama tiga hari. Mereka hanya boleh membawa persenjataan musafir sedangkan pedang-pedang mereka harus dimasukkan di dalam sarung. Pada saat itu kaum Quraisy tidak boleh menghalanginya.

Pelajaran dan Hikmah dari Perjanjian Hudaibiyah

Perjanjian Hudaibiyah memiliki dampak yang sangat besar. Perjanjian ini ditandatangani oleh Suhail bin ‘Amru, sebagai wakil kaum Quraisy. Suku Quraisy adalah suku paling terhormat di daerah Arab, sehingga siapapun akan menghormati apa yang mereka tentukan. Dengan penandatanganan perjanjian ini, maka Madinah diakui sebagai suatu daerah yang mempunyai otoritas sendiri. Jika Suku Quraisy telah mengakui, maka suku-suku lain pun pasti mengakuinya. Dengan adanya gencatan senjata yang merupakan salah satu hasil perjanjian, dapat menghalangi keangkuhan dan kezaliman kaum musyrikin yang selalu berupaya menyerang kaum muslimin sehingga membuka peluang yang sangat besar bagi kaum muslimin untuk melancarkan dakwahnya yang selama ini banyak disibukkan oleh peperangan-peperangan bersama kaum Quraisy. Hal tersebut terbukti, jumlah muslimin sebelum perjanjian tersebut tak lebih 3000 orang, namun dua tahun setelah perjanjian tersebut pada peristiwa Fathul Mekkah pasukan kaum muslimin sudah berjumlah 10.000 orang.

Dengan perjanjian ini, maka pihak Quraisy (Mekah) memberi kekuasaan kepada Madinah untuk menghukum bagi yang menyalahi perjanjian tersebut. Ternyata sangat hebat konsekuensi dari perjanjian ini. Kaum Muslimin Madinah yang tadinya dianggap bukan apa-apa, sejak perjanjian itu berada dalam posisi bisa menghukum suku yang paling terhormat di Arab. Selain itu, Nabi Muhammad Saw tahu betul karakter orang-orang Mekkah. Beliau yakin bahwa mereka akan melanggar perjanjian itu sebelum masa berlakunya selesai. Dan hal itu memang terjadi, sehingga Rasulullah memiliki landasan hukum untuk melakukan penaklukan kota Mekkah. Penaklukan Mekah terjadi damai tanpa pertumpahan darah karena kaum musyrikin sudah tidak berdaya lagi.

Adapun pasal yang menyatakan bahwa penduduk Mekkah yang pergi ke Madinah harus dikembalikan oleh Rasulullah ke Mekkah, sedangkan penduduk Madinah yang pergi ke Mekkah tidak dikembalikan, sepintas perjanjian tersebut menguntungkan kaum musyrikin. Namun jika diamati dengan saksama, hal tersebut ternyata dapat dipahami. Karena orang yang beriman tidak mungkin akan kabur ke Mekkah untuk minta perlindungan, maka jika ada yang kabur, pastilah dia orang kafir yang telah nyata kekafirannya. Untuk orang seperti itu, tidak ada ruginya bagi kaum muslimin jika mereka kabur dari Madinah. Sedangkan kaum muslimin di Mekkah jika dia hendak kabur, maka Madinah bukanlah satu-satunya tujuan untuk itu. Bumi Allah amatlah luasnya, maka dia dapat mencarinya selain Madinah. Hal itu kemudian terbukti, ada seorang sahabat yang bernama Abu Bashir kabur dari Mekkah ke Madinah. Berdasarkan perjanjian tersebut, Rasulullah tidak menerimanya, maka beliau menyerahkannya kepada dua utusan Quraisy yang menjemputnya. Namun di tengah perjalanan Abu Bashir berontak, tidak bersedia kembali ke Mekkah, dua orang utusan Quraisy tersebut dibunuh olehnya. Akhirnya dia mencari lokasi di tepi pantai sebagai tempat tinggalnya. Hal tersebut kemudian diikuti oleh Abu Jandal yang tinggal dan bergabung bersamanya.

Begitulah seterusnya satu demi satu kaum muslimin yang berada di Mekkah kabur ke tempat itu, dan lama kelamaan akhirnya membentuk komunitas tersendiri. Hal ini ternyata menyulitkan kaum Quraisy sendiri, karena kafilah dagang mereka sering diganggu oleh kaum muslimin yang berada di tempat tersebut sebagai pembalasan atas perlakuan aniaya yang mereka terima selama ini dari kaum musyrikin.

Di kalangan para sahabat sendiri, pada awalnya timbul keberatan dengan isi perjanjian tersebut. Karena secara lahir, perjanjian tersebut berpihak kepada kaum musyrikin. Bahkan Umar bin Khattab sempat memprotes isi perjanjian ini. Ketika Nabi Muhammad Saw memerintahkan umatnya untuk mencukur rambut dan menyembelih hewan kurban yang telah mereka siapkan sebagai tanda berakhirnya ibadah Haji, tidak ada satu pun yang bersegera mematuhinya, mungkin karena bingung atau protes kepada Rasulullah. Namun akhirnya mereka menyadari bahwa keputusan Rasulullah Saw akan selalu mendatangkan kemaslahatan, karena semuanya berasal dari Allah Ta’ala.

Apalagi tidak lama kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat-Nya, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.”  (QS. Al-Fath [48]: 1)

Maka bergembiralah para sahabat dengan kabar gembira kemenangan yang gilang gemilang.

Referensi:

Author:

Ibu dari tiga anak yang menerima order layout/setting buku. Sebagian hasil karyanya bisa dilihat pada FP www.facebook.com/pages/Alfaz-Creation/265018896864395. Juga jualan buku di http://www.facebook.com/gbb.aliafazrillah, silakan mampir...