Posted in Cross Stitch, Kisah

Kujatuh Cinta (lagi) Padanya

Auwh… auwh… auwh… jatuh cinta. Hati-hati ah, sakit. Yang namanya jatuh kan pasti sakit, walo itu cinta yang jatuh. Cinta sama siapa sih? Atau sama apa sih? Hehehe… Boleh dong, lebay dikit 😉

Rasa ini bermula, sekitar tahun 2005, ketika sedang berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan di bilangan Kuningan Jakarta Selatan, aku melihat sebuah toko Cross Stitch. Melihat papan nama tokonya saja sudah membuatku tertarik, Cross Stitch Point dengan logo gambar jarum dan benang yang menyilang-nyilang. Begitu masuk dan melihat-lihat isi dalam toko, menambah rasa ketertarikanku dan aku pun membeli satu paket kit kristik yang sangat sederhana. Pikirku, bolehlah aku mencoba dulu sendiri. Si Mba penjaga toko menjelaskan singkat cara membuat kristik. “Tusuk silang mengikuti pola boleh dari kiri dulu, baru kanan atau sebaliknya, yang penting harus seragam,” jelas si Mba. “Dimulai dari tengah, dengan cara melipat kain menjadi empat bagian. Bekas lipatan itulah bagian tengahnya.” Ok, sip… Kuingat terus pesan Mba itu dan dengan perasaan yakin, pasti kubisa membuat produk kristik. Ya, cross stitch dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama kristik atau Kruistik (bahasa Belanda: kruissteek) atau tusuk silang adalah salah satu jenis sulaman yang memakai jahitan benang yang bersilangan (membentuk huruf X) di atas kain tenunan sejajar. Teknik jahitan membentuk huruf X disebut setik silang (tusuk silang), sehingga kruistik populer dengan sebutan “tusuk silang”.

2-cross stitch point
Logo Toko Cross Stitch Point

Kupelajari pola kristik yang sudah tertera kode benang dan simbolnya, semua bisa dipahami. Hanya ada yang membingungkan yaitu ketika membaca tulisan Cross stitch used 2 strands, used 1 strand, Half stitch used 1 strand, Back stitch used 1 strand, used 2 strands, dan French knot used 2 strands. Apa pula itu? *kening berkerut-kerut* Karena saat itu, aku belum terlalu mengenal internet, youtube, facebook, maupun google yang bisa untuk mencari hal apa pun yang tidak dimengerti, maka aku tetap nekat membuatnya dengan meraba-raba.

Pada 2006, anakku pertama lahir. Ternyata mengurus dan merawat bayi sangat menyita waktuku hingga proyek kristik yang sederhana itu terbengkalai. Dan akhirnya pun terlupakan.

***

Sudah berlangsung lama, setiap dini hari aku terjaga untuk bekerja hingga matahari terbit. *berubah jadi kalong* hihihi 😛 Nah, memasuki 2014, orderan layout buku agak berkurang. Ketika Alfaz Creation lagi tidak ada kerjaan sedangkan aku tidak bisa tidur‑‑‑sudah terbiasa bangun pada dini hari‑‑‑maka aku pun kebingungan mau ngapain. Nulis-nulis di blog, udah. Berselancar di facebook kelamaan bosan. Pencarian jati diri pun dimulai, bak ABG yang sedang labil. Tsaahh… *naikin kacamata yang ga turun pake telunjuk* (Emang elo umur berapa, Mak?) 😀 Melihat seorang rajuter menghasilkan suatu karya, sepertinya menyenangkan. Dia bisa merajut apa saja yang bisa menjadi barang, berupa baju, syal, tas, topi, kaus kaki, dan masih banyak lagi. Ternyata ada merajut (knitting) dan ada juga merenda (crochet), yang pada dasarnya, merenda dan merajut sama-sama bertujuan mengait benang melalui lubang tusukan yang ada, namun menggunakan teknik rajutan dan jarum yang berbeda. http://id.wikipedia.org/wiki/Merajut.

Kepikiran untuk bisa merenda, mulai deh mencari segala keperluan crochet. Benang, hakpen, buku panduan merajut untuk pemula dibeli, namun pas dipelajari, kok rasanya susah banget ya untuk dimengerti. Menonton youtube tutorial merajut, pusying sendiri jadinya. Tuh orang cepet banget ngebelit-belitin benang pake stik atau jarum rajutnya. Salut deh sama orang yang mahir dalam merajut dan merenda. Wah ini sih musti kursus, ga bisa otodidak seperti aku belajar kristik dulu, pikirku. Aha! *tring* Kenapa juga aku ngga ngeristik lagi? *bola lampu di atas kepala menyala* Ide itu muncul tiba-tiba. Bongkar-bongkarlah lemari, mencari barang-barang kristik yang sempat tersingkirkan. Alhamdulillah masih ketemu, jarumnya sudah berkarat karena diselipkan ke kainnya. Aku mulai melanjutkan proyek kristik yang waktu dulu tertunda, sebuah gambar karakter film kartun Strawberry, favorit anakku. Saat itu, aku belum tahu watersable pen yang berguna untuk membuat garis bantu pada kain agar memudahkan kita dalam menghitung kotak-kotaknya. Jadi pada pengerjaannya, aku hitungin satu per satu kotaknya. Ke kanan atau kiri berapa kotak, ke atas atau bawah berapa kotak, lalu aku tandai pada pola kotak yang sudah ditusuk silang. Agak ribet memang, tapi mengasyikkan. Sedikit puas dengan hasil akhir kristik gambar Strawberry, membuatku semakin yakin akan mengkristik kembali dengan belajar lebih serius. Nggak terlalu buruklah hasilnya … *puk-puk sendiri*

Toko kristik di Mal Ambassador yang dahulu membuatku jatuh hati pada kristik saat pandangan pertama, diincer kembali. Aku harus ke sana, tekadku. Selang 9 tahun, ternyata sudah meniadakan keberadaan toko itu atau memang aku tidak meneumukannya, semisal si toko berpindah lantai. Kecewa, sedih, memang yang kurasa tapi tidak menyurutkan niatku untuk kembali menekuni dunia perkristikan. Semangat! *mengepalkan tangan* Ceile, emangnya dunia persilatan… hehehe… 😉

Pencarian berikutnya melalui internet, aku searching di mana keberadaan toko kristik yang terdekat dengan tempat tinggalku. Pada facebook pun dirambah, hanya mengetik kata kunci Kristik langsung keluar banyak hal yang terkait dengan perkristikan. Ada online shop, grup komunitas, orang-orang pecinta kristik. Seru ya era sekarang, kita hanya berada di depan laptop langsung terhubung dengan dunia yang kita sukai, kita mau. Jati diri pun sudah ditemukan, mantap sudah hati ini kutambatkan pada Kristik atau Kruisteek atau Cross Stitch.

Aku ngga bisa ngegambar, apalagi ngelukis. Pun ngga bisa ngejahit, apalagi ngerajut. Jadi aku ngristik aja. Kembali, kujatuh cinta padanya.

Author:

Ibu dari tiga anak yang menerima order layout/setting buku. Sebagian hasil karyanya bisa dilihat pada FP www.facebook.com/pages/Alfaz-Creation/265018896864395. Juga jualan buku di http://www.facebook.com/gbb.aliafazrillah, silakan mampir...