Berusaha Membangun Masjid

Pernah mendengar ada yang mengatakan, barangsiapa membantu seseorang menemukan jodohnya akan mendapat pahala sebuah masjid. Masjid adalah tempat ibadah, tempat untuk orang-orang beribadah, begitu pula dengan pernikahan yang semua aktivitas di dalamnya bernilai ibadah, jika diniatkan untuk mencari keridhaan Allah. Maka dengan membantu seseorang membangun sebuah rumah tangga, seperti mendirikan masjid yang pahala orang-orang beribadah akan terus mengalir ke diri kita juga. Saya penasaran, saya cari di kitab Hadis Shahih Muslim dan browsing di google, tetapi tidak menemukan kalau pernyataan tersebut hadis shahih atau bukan.

Saya malah ketemu hadis ini,

Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar berkata, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin Yahya berkata, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin Yazid dari Yazid bin Abu Habib dari Abul Khair dari Abu Ruhm ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik pertolongan adalah menjodohkan dua orang (seorang laki-laki dan perempuan) dalam pernikahan.” (HR Ibnu Majah)

Terlepas shahih atau tidak hadis tersebut, sebenarnya bukan itu niat awalnya, saya hanya ingin membantu mempertemukan seseorang dengan jodohnya. Saya mempunyai kerabat perempuan yang usianya sudah mencapai waktunya untuk menikah, tetapi jodohnya belum kunjung datang jua. Jodoh itu kan bisa datang dari mana saja. Itu sebabnya, kalau saya bisa, saya mau membantu mempertemukan kerabat saya ini dengan jodohnya.

Sedikit flashback, saya bertemu dengan jodoh saya juga berkat bantuan teman. Saya mau cerita nih, duduk manis ya… 😛 Kala itu, awal kisah perjalanan bertemunya jodoh, saya berkunjung ke pameran buku di JCC bersama sahabat, Woro. Di sana, saya bertemu dengan Firman, kawan lama sesama SMA. Ketika saya memperkenalkan Woro kepada Firman, dan mengatakan bahwa Woro ini bekerja di X, sebuah penerbitan Islam juga, seperti saya namun berbeda penerbitan. Firman langsung merespons yang membuat saya kaget, “Lho, Toto kan juga kerja di X.”

“Oh ya?” tanya saya tidak percaya sambil melirik kepada Woro.

“Iya sih, di X ada yang namanya Toto. Tapi gue ngga tau, dia itu temen lo, Li,” jawab Woro.

Firman dan Toto adalah kawan dekat saya ketika di KLS 2 SMA. Kami, bisa dibilang nge-Geng, bersama dengan kawan-kawan yang lain juga. Jadi saya sungguh surprise, mendengar kabar kalau sahabat saya semasa kuliah itu sekantor dengan kawan lama semasa SMA. Hal yang wajar dan biasa saja sih, kalau mereka bisa satu tempat kerja. Keesokan harinya, (ga tau sih, besoknya atau beberapa hari setelahnya) di kantor Woro menegur Toto, “Woi, To…! Elo tuh temannya Alia, ya?”

“Heh, iya…,” jawab Toto bingung. “Kok, tau?”

Saat itu, bersama Woro ada Erna, kawan saya juga, yang mendengar percakapan tersebut. Seketika dalam benak Erna, tebersit ide, Aha! Kenapa ngga jodohin aja Toto dengan Alia. *Nah, lho!* Mungkin Erna melihat ada kesempatan dia untuk mendapat pahala masjid. Begitulah saya jadi korban pelaksanaan idenya Erna, yang membantu mendekatkan jalan bertemunya jodoh saya dengan Toto, yang sebenarnya memang sudah teman dari dulu. Kalau bukan bantuan Erna, saya ngga pernah tuh kepikiran berjodoh dengan Toto. Itulah jodoh, datangnya tidak pernah disangka dan diduga, tapi ngga harus diantar, ya. (Emangnya jelangkung, datang tak diundang dan pergi tak diantar) Hihihi… *jadi serem*

Kembali ke laptop! Suatu hari, saya membaca status seorang lelaki di FB. Statusnya singkat, namun penuh makna, “Mencari jodoh…” Langsung saja, saya mengkaitkannya dengan kerabat saya. Mungkin ngga ya, kalau saya bantu mempertemukan jodoh antara dua insan ini. Siapa tahu, kalau ternyata mereka memang berjodoh. Ya gak pa-pa deh, dicoba. Ngga salah, kan…

Saya inbox deh tuh bujangan, tanya mau ngga lo, gw kenalin ama temen gw. *inti isi messagenya* hehehe… 😉 Karena, rasanya kalau cuma ngasih satu nama tuh seperti maksa, atau kasihan si Lelaki itu tidak ada pilihan, maka saya sodorinlah dua nama perempuan, yang kebetulan memang punya kenalan juga yang sedang menanti jodohnya. Biasalah, kalau perempuan mah banyak yang udah mau nikah, tapi stok lelaki ini yang jarang. Bersyukurlah kita yang sudah menggenapkan setengah iman kita ini. Dengan dua nama perempuan ini, saya jabarkan singkat biodatanya. Teteup, saya berharap sangat si Lelaki memilih nama perempuan pertama yang memang menjadi tujuan saya menjodohkannya. Akan tetapi, kalau Lelaki itu memilih nama perempuan kedua, ya saya sih ikhlas saja. Mungkin memang itu sudah jalan ketemu jodohnya mereka. Atau malah, dia menolak keduanya.

Lantas, sebenarnya apa sih yang menjadi pertimbangan dalam memilih jodoh. Ada beberapa hadis yang menjelaskan,

Dari Jabir r.a., Nabi Saw. telah bersabda, “Sesungguhnya perempuan itu dinikahi karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya, maka pilihlah yang beragama.” (HR. Muslim dan Tirmidz)

Rasulullah Saw. bersabda, “Wanita dinikahi karena empat hal; hartanya, nasabnya, kecantikannya dan agamanya. Peganglah perkara agamanya maka engkau akan beruntung.” (HR Ibnu Majah)

“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta/tahtanya mungkin saja harta/tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Seorang budak wanita yang shalehah, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama(HR. Ibnu Majah)

Jadi, memang begitu sebaiknya, utamakan karena agama dan akhlaknya dalam memilih pasangan. Ada kisah, seorang laki-laki pernah bertanya kepada Hasan bin Ali, “Saya mempunyai seorang putri. Menurut Anda, siapakah kira-kira orang yang patut jadi suaminya?” Jawabnya, “Seorang lelaki yang takwa kepada Allah. Sebab jika ia senang, ia akan menghormatinya dan jika ia sedang marah, ia tidak suka zalim kepadanya.”

Saya pernah baca buku Untaian Permata buat Anakku oleh M. Quraish Shihab, buku kecil yang berisi pesan Al-Quran untuk mempelai. Ada pesan yang sangat berkesan buat saya, tertulis:

Salah seorang teman pernah memberi nasihat, “Jangan tanya akal Anda tentang wanita yang hendak Anda nikahi. Pastilah akal akan menunjukkan kekurangannya, dan ketika itu pasti Anda mengurungkan rencana. Tapi tanyailah hati. Jika ia menjawab positif, walau tak bulat, maka tugaskan akal mencari pembenarannya.”

Ini benar banget, kadang dalam memilih pasangan kalau dipikir pakai akal, pasti banyak banget kekurangannya. Yang ngga cantiklah, yang usianya tidak cocoklah dengan keinginan (bisa lebih muda atau lebih tua), atau yang pekerjaannya tidak kerenlah. Tapi kalau hati sudah bilang sreg, ya udah segerakan niat.

Saat ini, si Lelaki masih shalat Istikharah dalam rangka memilih yang terbaik di antara dua nama. Apa pun keputusannya, pasti itu yang terbaik buat kita semua. Kita hanya berusaha dan berdoa, Allah jualah yang menentukan.

*Bagi nama yang disebutkan dalam tulisan ini, maaf jika tidak berkenan

4 thoughts on “Berusaha Membangun Masjid

Comments are closed.