Posted in Catatan

Thaharah (2)

B.      Mandi Janabah

Mandi janabah atau mandi junub atau mandi wajib adalah rangkaian mandi sebagai bentuk kewajiban bersuci dari hadats besar. Yang termasuk hadats besar yang mewajibkan mandi, yaitu:

  1. Keluar darah haid dan nifas
  2. Mayat seorang muslim
  3. Kafir masuk Islam
  4. Janabah. Terjadi karena dua hal, yakni jima’ (berhubungan suami-istri) atau keluar mani yang disebabkan bermimpi, memandang, dan sebagainya.

Tata cara/Rukun Mandi Janabah:

1. Niat mandi wajib dalam hati yang tidak perlu diucapkan

niat junub

artinya: Aku niat mandi wajib untuk menghilangkan hadats besar fardu karena Allah semata.

2. Membaca basmalah
3. Membersihkan kemaluan
4. Membasuh kedua tangan, siku, lipatan-lipatan tangan
5. Berwudhu dengan sempurna, seperti wudhu akan shalat
6. Membasahi dan menyiram air ke atas kepala
7. Mengguyur air ke seluruh badan dimulai dari sisi sebelah kanan, lalu kiri
8. Menggosok dan membersihkan seluruh anggota tubuh

Mandi janabah bagi wanita tidak diwajibkan membuka anyaman/ikatan rambut, tetapi ketika mandi setelah haid/nifas, wanita diwajibkan membuka ikatan rambutnya sehingga air bisa sampai ke pangkal rambut, tidak cukup dengan hanya mengalirkan air, namun juga menggosoknya agak keras hingga mencapai akar rambut kepala, seperti sedang keramas memakai sampo. Selain itu, dianjurkan juga memakai sabun.

***

Yang membedakan laki-laki dan perempuan, salah satunya ialah anatomi tubuh. Seorang lelaki tidak mempunyai rahim yang hanya dimiliki oleh seorang perempuan. Dari rahim itulah, bisa mengeluarkan darah:

–          Haid/Menstruasi: Darah yang keluar dari rahim melalui vagina pada masa-masa tertentu. Haid terjadi apabila sel telur yang keluar tidak dibuahi.

–          Nifas: Darah yang keluar dari rahim melalui vagina setelah melahirkan.

–          Istihadhah: Darah yang keluar dari rahim melalui vagina di luar kebiasaan, yaitu tidak pada masa haid dan bukan pula karena melahirkan, dan umumnya darah ini keluar ketika sakit, sehingga sering disebut sebagai darah penyakit.

HAID/MENSTRUASI

Menstruasi atau haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi baik FSH-Estrogen atau LH-Progesteron. Periode ini penting dalam hal reproduksi. Pada manusia, hal ini biasanya terjadi setiap bulan antara usia remaja sampai menopause.

Berdasarkan firman Allah Swt., “Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haid. Katakanlah, ‘Itu adalah sesuatu yang kotor.’ Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri*) dari istri pada waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci.**)Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS Al-Baqarah [2]: 222)

*) Jangan bercampur dengan istri pada waktu haid

**) Yang dimaksud suci di sini adalah setelah mandi wajib sehabis haid. Adapula yang menafsirkan setelah darah berhenti keluar.

Haid merupakan proses alami yang terjadi pada setiap wanita. Biasanya darah haid mula-mula keluar berwarna hitam, berubah merah, kemudian antara merah dan kuning, lalu kuning dan akhirnya keruh (yakni antara putih dan hitam) atau seperti warna tanah, hingga akhirnya putih bersih tanda selesainya haid. Kebiasaan haid pada tiap wanita berbeda-beda, baik siklus maupun gejalanya. Karena itu, penting setiap wanita untuk mengetahui dan mengenali masa dan karakteristik kebiasaan haid masing-masing sehingga kita dapat membedakannya dengan darah-darah lain yang keluar kemudian.

Mulainya keluar darah haid pada seorang wanita tidak sama, umumnya ketika usia ±9 tahun dan berakhirnya (menopause) ±50 tahun atau tergantung dimulainya haid keluar. Semakin cepat mulai haid, semakin cepat pula mengalami menopause, karena sel telurnya sudah tidak ada lagi.

Dalam Islam, perempuan yang sudah mengeluarkan darah haid menandakan perempuan tersebut telah baligh. Perempuan yang baligh kemudian disebut mukallaf (orang yang dibebani), artinya telah memiliki kewajiban untuk melaksanakan shalat, puasa, zakat, dan haji jika mampu.

Batasan Waktu Haid:

  • Menurut Ulama Syafi’iyyah batas minimal masa haid adalah sehari semalam, dan batas maksimalnya adalah 15 hari. Jika lebih dari 15 hari maka darah itu darah Istihadhah dan wajib bagi wanita tersebut untuk mandi dan shalat.
  • Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa mengatakan bahwa tidak ada batasan yang pasti mengenai minimal dan maksimal masa haid itu. Dan pendapat inilah yang paling kuat dan paling masuk akal, dan disepakati oleh sebagian besar ulama, termasuk juga Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah juga mengambil pendapat ini. Dalil tidak adanya batasan minimal dan maksimal masa haid.

Firman Allah Ta’ala, “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah : “Haid itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekatkan mereka, sebelum mereka suci…” (QS Al-Baqarah [2]: 222)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah memberikan petunjuk tentang masa haid itu berakhir setelah suci, yakni setelah kering dan terhentinya darah tersebut. Bukan tergantung pada jumlah hari tertentu, sehingga yang dijadikan dasar hukum atau patokannya adalah keberadaan darah haid itu sendiri. Jika ada darah dan sifatnya dalah darah haid, maka berlaku hukum haid. Namun jika tidak dijumpai darah, atau sifatnya bukanlah darah haid, maka tidak berlaku hukum haid padanya.

Berhentinya haid:

Indikator selesainya masa haid adalah dengan adanya gumpalan atau lendir putih (seperti keputihan) yang keluar dari jalan rahim. Namun, bila tidak menjumpai adanya lendir putih ini, maka bisa dengan mengeceknya menggunakan kapas putih yang dimasukkan ke dalam vagina. Jika kapas itu tidak terdapat bercak sedikit pun, dan benar-benar bersih, maka wajib mandi dan shalat.

Sebagaimana disebutkan bahwa dahulu para wanita mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan menunjukkan kapas yang terdapat cairan kuning, dan kemudian Aisyah mengatakan, “Janganlah kalian terburu-buru sampai kalian melihat gumpalan putih.” (Atsar ini terdapat dalam Shahih Bukhari).

Larangan

Bagi mereka yang sedang dalam keadaan berjunub, yaitu mereka yang masih berhadats besar, tidak boleh (haram) melakukan hal-hal ini:

1. Melaksanakan shalat
2. Melakukan thawaf di Baitullah
3. Memegang kitab suci Al-Qur’an
4. Membawa atau mengangkat kitab suci Al-Qur’an
5. Membaca kitab suci Al-Qur’an
6. Berdiam diri di masjid

Bagi mereka yang sedang masa haid, tidak diperbolehkan (haram) melakukan hal-hal berikut:

1.   Shalat
2.   Puasa
3.   Thawaf
4.   Memegang Al-quran namun diperbolehkan membaca Al-Qur’an dengan tanpa menyentuh mushaf asli langsung (boleh dengan pembatas atau dengan menggunakan media elektronik seperti komputer, ponsel, ipad, dan lain-lain)
5.   Bersetubuh atau hubungan intim dengan suami. dan boleh melayani atau bermesraan dengan suami kecuali pada kemaluannya
6.   Berdiam diri di masjid karena dikhawatirkan tembus dan mengotori (jika tidak, maka diperbolehkan)
7.   Di talaq/cerai

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.” (HR. Al-Bukhari No. 321 dan Muslim No. 335)

NIFAS

Darah nifas tentu saja paling mudah untuk dikenali, karena penyebabnya sudah pasti, yaitu karena adanya proses persalinan.

Batasan Waktu Nifas:

Tidak ada batas minimal masa nifas, jika kurang dari 40 hari darah tersebut berhenti maka seorang wanita wajib mandi dan bersuci, kemudian shalat dan dihalalkan atasnya apa-apa yang dihalalkan bagi wanita yang suci. Adapun batasan maksimalnya, para ulama berbeda pendapat tentangnya.

  • Ulama Syafi’iyyah mayoritas berpendapat bahwa umumnya masa nifas adalah 40 hari sesuai dengan kebiasaan wanita pada umumnya, namun batas maksimalnya adalah 60 hari.
  • Mayoritas Sahabat seperti Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Aisyah, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhum dan para Ulama seperti Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad, At-Tirmizi, Ibnu Taimiyah rahimahumullah bersepakat bahwa batas maksimal keluarnya darah nifas adalah 40 hari, berdasarkan hadits Ummu Salamah dia berkata, “Para wanita yang nifas di zaman Rasulullah  Saw., mereka duduk (tidak shalat) setelah nifas mereka selama 40 hari atau 40 malam.” (HR. Abu Daud no. 307, At-Tirmizi no. 139, dan Ibnu Majah no. 648). Hadits ini diperselisihkan derajat kehasanannya. Namun, Syaikh Albani rahimahullah menilai hadits ini Hasan Shahih. Wallahu a’lam.
  • Ada beberapa ulama yang berpendapat bahwa tidak ada batasan maksimal masa nifas, bahkan jika lebih dari 50 atau 60 hari pun masih dihukumi nifas. Namun, pendapat ini tidak masyhur dan tidak didasari oleh dalil yang shahih dan jelas.

Wanita yang sedang nifas juga tidak boleh melakukan hal-hal yang dilakukan oleh wanita haid, yaitu tidak boleh shalat, puasa, thawaf,  menyentuh mushaf, dan berhubungan intim dengan suaminya pada kemaluannya. Namun ia juga diperbolehkan membaca Al-Qur’an dengan tanpa menyentuh mushaf langsung (boleh dengan pembatas atau dengan menggunakan media elektronik seperti komputer, ponsel, ipad, dll), berdzikir, dan boleh melayani atau bermesraan dengan suaminya kecuali pada kemaluannya.

ISTIHADHAH

Karena darah istihadhah keluar di luar kebiasaan, tidak pada masa haid dan bukan pula karena melahirkan, maka sering disebut sebagai darah penyakit dan biasanya darah ini keluar ketika sakit. Darah istihadhah berwarna merah segar dan sifatnya seperti darah pada umumnya, encer dan tidak berbau. Tidak diketahui batasan waktu keluarnya dan hanya akan berhenti setelah keadaan normal.

Wanita yang mengalami istihadhah hukumnya sama seperti wanita suci, sehingga ia tetap harus shalat, puasa, dan boleh berhubungan intim dengan suami walaupun darah mengalir.

  1. Tidak diharuskan mandi wajib bila hendak shalat
  2. Mencuci dan membersihkan kemaluan
  3. Menyumbatnya dengan kapas agar tidak menjadi najis
  4. Berwudhu ketika hendak shalat

Imam Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Fatimah binti Abi Hubaisy telah datang kepada Nabi Saw. lalu berkata: ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya aku adalah seorang wanita yang mengalami istihadhah, sehingga aku tidak bisa suci. Haruskah aku meninggalkan shalat?’ Maka jawab Rasulullah Saw.: ‘Tidak, sesungguhnya itu (berasal dari) sebuah otot, dan bukan haid. Namun, apabila haid itu datang, maka tinggalkanlah shalat. Apabila batasan waktunya telah habis, maka cucilah darah dari tubuhmu lalu shalatlah.”

 Wallahu a’lam. 

 

Referensi:

  1. Haya Binti Mubarok Al-Barik. Ensiklopedia Wanita Muslimah, Darul Falah
  2. http://www.fiqihwanita.com/
  3. berbagai sumber.

Author:

Ibu dari tiga anak yang menerima order layout/setting buku. Sebagian hasil karyanya bisa dilihat pada FP www.facebook.com/pages/Alfaz-Creation/265018896864395. Juga jualan buku di http://www.facebook.com/gbb.aliafazrillah, silakan mampir...