StarkLED Menghidupkan Kamar yang Tak Terpakai

“Aku mau nulis cerita pergi jalan-jalan tadi ya, Mi,” kata Ashila, putri sulungku, yang baru saja pulang dari Education Field Trip (EFT) sekolahnya. Ashila sedang bersemangat menulis apa pun. Semua pengalaman yang baru dilakukannya, selalu dituliskan kembali dalam sebuah cerita. Sebagai ibunya jelas mendukung setiap kegemarannya yang positif.

“Ya udah, nulisnya di meja belajar kamarmu sana,” suruhku menanggapi keinginannya.

“Ngga mau, ah. Nulisnya di sini aja,” jawab Ashila mengambil buku ke ruangan depan TV.

Ashila juga gemar menggambar. Bahkan Ashila kecil sering menggambar di lantai. Seiring waktu Ashila sudah bisa diarahkan untuk menggambar pada media yang benar, kertas atau buku gambar. Saat ini, Ashila duduk di kelas 2 SD dan sudah bisa membaca-menulis. Akan tetapi dia selalu melakukan kegiatan apapun, menggambar, menulis, membaca di ruang keluarga, depan TV. Padahal dia mempunyai kamar dan meja belajar sendiri yang tak pernah terpakai sejak dibeli.

Aku pun menyadari, kalau kebiasaan Ashila yang mengerjakan sesuatu selalu dengan posisi tidur tengkurap adalah tidak baik, yang bisa berakibat buruk pada matanya. Namun, sulit sekali memberitahu hal itu kepada Ashila yang kerapkali menolak, jika diminta mengerjakannya pada meja di kamar. Ada teman yang mengatakan mungkin pencahayaan di kamarnya kurang, ketika aku menceritakan hal ini. Kemudian temanku menyarankan untuk mengganti lampu dengan memakai lampu StarkLED. Cahaya lampu StarkLED tidak panas dan tidak memancarkan UV (ultra Violet) yang dapat merusak mata. StarkLED pun ramah lingkungan, karena bahan baku StarkLED tidak mengandung merkuri atau tidak mengandung bahan yang beracun.

Aku menuruti saran tersebut, mengganti lampu kamar Ashila dengan lampu StarkLED. Wow, ternyata lampu StarkLED hemat sekali, pikirku. Dalam benak ibu rumah tangga yang langsung hitung-hitungan uang. Dengan kualitas yang sama, aku dapat memperoleh lampu dengan harga murah. Power lampu 5W sama terangnya dengan power lampu 11W. Cahaya terang yang bersahabat membuat kita dapat menghemat 50% biaya daripada menggunakan lampu hemat energi (LHE).

Lampu StarkLED
Lampu StarkLED

Sedikit bujukan, Ashila mulai mau menggunakan meja belajarnya di kamar dengan pencahayaan baru memakai lampu StarkLED. Body lampunya menggunakan bahan plastik ringan yang tahan tegangan listrik. Lensanya terbuat dari bahan PC yang mengeluarkan 95% pancaran cahaya dan warna uniform, juga dilengkapi dengan struktur plat yang dapat mendistribusikan udara panas dengan lebih cepat. Serta mempunyai lubang ergonomis sebagai saluran udara panas yang dapat menjaga kestabilan suhu lampu. Tidak ketinggalan, lampu StrakLED menggunakan Chip SMD yang berkualitas dengan LUMEN dan CRI yang tinggi. Dengan segala kelebihan ini, kamar yang semula tak pernah dipakai menjadi terang benderang sehingga Ashila pun merasa nyaman dan betah berada di sana melakukan aktivitas menggambar dan menulis.

Konon, usia pakai lampu StarkLED 15 tahun, lampu pijar < 1 tahun, dan LHE ±2 tahun. Jika kita memakai lampu StarkLED selama 10 tahun, maka penggantian lampu cukup sekali saja. Wow, bayangkan satu lampu untuk 10 tahun. *mata berbinar-binar* Bagaimana kalau kita harus memakai LHE, wah bisa 5-6 kali kita ganti lampu selama 10 tahun itu. Apalagi jika kita memakai lampu pijar, bisa 15 kali mengganti lampu terus. Dengan membeli lampu StarkLED seharga Rp42.500, namun kita bisa hemat selama 10 tahun.

Lampu StarkLED 5 W
Lampu StarkLED 5 W

Daya listrik yang digunakannya pun hemat. Untuk pemakaian lampu selama 10 tahun, cuma butuh daya 300 KWh , sedangkan lampu pijar 3240 KWh dan LHE 696 KWh. Wow, lagi! *bagaikan ada bola lampu (StarkLED) di atas kepala :-P* Jadi, kita bisa hemat sekali bayar listriknya. Bila kita menggunakan lampu StarkLED untuk seluruh lampu rumah, maka penghematan menjadi sangat berarti. Kalau begini sih, lampu StarkLED benar-benar Lampu LED yang berkualitas dan sangat hemat dimulai dari hari pertama memakainya.

banner-blog-kontes-250x250

Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Contest StarkLED