Posted in Catatan

Niat

Hadis 1 Nawawiyah:

Artinya: Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Khathab ra. ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat, dan setiap orang hanya memperoleh apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ditujunya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang dihijrahkannya.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Hadis pertama ini sangat penting dan menjadi prinsip dasar agama, karena dasar agama bertumpu pada dua hal, yaitu Amal/perbuatan dan Batin/niat. Jadi niat merupakan setengahnya dari Agama Islam.

Latar Belakang Turunnya Hadis

Diriwayatkan oleh Thabrani: Ada seorang laki-laki yang hendak melamar seorang wanita, yang dipanggil dengan nama Ummu Qais. Namun wanita menolaknya kecuali jika laki-laki tersebut berhijrah (ke Madinah). Laki-laki itu pun ikut hijrah, lalu menikahi wanita tersebut.

Hijrah berarti meninggalkan, secara syar’i Hijrah adalah meninggalkan atau berpindah dari negeri kafir ke negeri Islam untuk menghindari fitnah.

Adapun maksud hijrah dalam hadis ini adalah perpindahan dari kota Mekah dan kota lainnya menuju Madinah sebelum Fathu Makkah (pembebasan kota Mekah).

Pemahaman/Pelajaran yang Bisa Diambil dari Hadis (Fiqhul-Hadist)

1. Setiap amal (perbuatan) seorang mukmin dianggap sah dan mendapat pahala jika diiringi dengan niat.

Niat adalah salah satu rukun dari ibadah inti, seperti ibadah shalat, puasa, atau haji. Ibadah tersebut tidak sah kecuali diiringi niat.

2. Tempatnya niat ada dalam hati dan tidak disyaratkan untuk diucapkan. Kendati begitu, bisa saja diucapkan untuk membantu hati menghadirkan niat.

Waktu niat adalah pada saat hendak melakukan suatu ibadah. Misalnya, berniat shalat ketika hendak melakukan takbiratul ihram (takbir pertama). Berniat puasa sebelum terbitnya fajar.

Dalam niat ditentukan secara jelas apa yang akan dilakukan. Misal, niat shalat tidak cukup hanya dengan meniatkan shalat, melainkan harus diniatkan dengan jelas bahwa shalat yang akan dilakukan adalah shalat zuhur, shalat ashar, atau shalat lainnya.

3. Balasan untuk setiap amal (perbuatan) berdasarkan niatnya.

Contoh seperti dalam hadis, seseorang yang hijrahnya karena dunia yang ditujunya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang dihijrahkannya.

4. Seseorang yang berniat melakukan kebaikan, namun karena satu dan lain hal, ia sakit parah/meninggal sehingga tidak bisa melaksanakan kebiakan yang diniatkan, maka ia tetap mendapat pahala.

Niat kebaikan, jika dilaksanakan mendapat 2 pahala. Tetapi, niat kebaikan jika tidak dilaksanakan tetap mendapat pahala 1, yaitu pahala niat.

Niat keburukan, jika tidak dilaksanakan maka ia tidak berdosa. Namun, niat keburukan jika dikerjakan maka akan berdosa.

5. Niat yang ikhlas dalam melakukan suatu amalan dan ibadah akan meraih pahala di akhirat dan memperoleh kebahagian di dunia.

6. Setiap amal (perbuatan) yang baik dan bermanfaat (dalam pandangan Islam) dengan diiringi niat yang ikhlas dan hanya untuk mencari keridhaan Allah, maka amal tersebut merupakan ibadah.

Perbaiki dan luruskan niat ketika setiap akan melakukan suatu perbuatan sehingga amal kita menjadi tidak sia-sia.

Wallahu ‘alam

Referensi: Buku Syarah Arbain Nawawiyah Pokok-pokok Ajaran Islam, Dr. Musthafa Al-Buqha – Muhyidin Misto, penerbit Robbani Press.

Author:

Ibu dari tiga anak yang menerima order layout/setting buku. Sebagian hasil karyanya bisa dilihat pada FP www.facebook.com/pages/Alfaz-Creation/265018896864395. Juga jualan buku di http://www.facebook.com/gbb.aliafazrillah, silakan mampir...