Mengisi Liburan dengan Terapi Fisik

Ashila, putri sulungku, mempunyai kebiasaan unik dan beda dengan yang lain yaitu cara berjalannya dengan telapak kaki tidak menapak tanah yang dipijaknya, hanya jari-jari kakinya saja atau sering disebut jinjit (tiptoe). Tidak juga seperti penari balet yang berdiri dengan ujung jari-jari kaki dan juga bukan karena dia merasa jijik dengan lantai atau tanah yang diinjaknya, melainkan memang sudah kebiasaan dari kecil begitu jalannya. Pastinya sejak usia berapa tidak diketahui, Ashila mulai berjalan jinjit, mungkin sejak dia bisa berjalan ketika pas berulang tahun pertama. Yang aku ingat, hanya bapakku yang selalu rajin mengingatkan cucu perempuan pertamanya untuk berjalan dengan telapak kaki menapak, tidak berjinjit.

Aku sendiri tidak begitu peduli dengan cara jalan putriku itu karena hal tersebut menurutku bukan sesuatu yang patut dikhawatirkan. Setiap orang mempunyai karakter dan sifat masing-masing. Aku selalu berpikir kalau Ashila memang mempunyai keunikan tersendiri. Selain cara berjalanya yang berbeda, Ashila juga kidal. Kekuatan tangannya ada di sebelah kiri. Untuk menulis, menggambar, dia menggunakan pensil dengan tangan kiri. Jika memakai tangan kanan, garis yang digoreskannya lemah dan lembut, beda garis yang dihasilkan dengan menggunakan tangan kiri, akan terlihat terang dan tegas. Dan hal itu, abinya dan aku membiarkan. Hanya saja ketika makan, kami memang mengharuskannya untuk memakai tangan kanan, karena itu berkaitan dengan sunnah sesuai ajaran nabi. Keunikan-keunikan itulah yang menyebabkan aku membiarkan Ashila tetap berjalan jinjit.

Memang banyak omongan dari orang yang selalu mengomentari kebiasaan jalannya Ashila. Dari guru, teman-teman sekolah, sampai orangtua murid juga mengingatkannya ketika berjalan hingga terkadang membuat Ashila kesal. Bagaimana tidak kesal, setiap dia berjalan orang-orang di sekitarnya selalu cerewet berkata, “Shila, jangan jinjit! Jalan yang benar.”

Aku merasa kasihan padanya dan terkadang juga membuatku marah. “Repot banget sih ngurusin cara jalan orang. Toh, anaknya juga baik-baik aja dengan jalan begitu,” geramku dalam hati yang tidak pernah terucapkan.

Hingga sampai pada suatu hari, dokter yang biasa memeriksa kesehatan siswa di sekolah ingin bertemu denganku. Ibu gurunya Ashila menyampaikan pesan. Aku  kebingungan mendapat pesan itu, ada apa dan terus bertanya-tanya. Dokter menjelaskan duduk persoalan pertemuan ini, ingin membicarakan tentang kebiasaan jalan Ashila. Beliau menerangkan segala sesuatunya berkaitan dengan itu.

Efeknya memang tidak dirasakan saat ini, hanya dikhawatirkan akan ada dampaknya di kemudian hari jika terus Ashila berjalan jinjit. Tulang belakang dan tulang ekornya akan tertarik yang bisa menyebabkan Ashila bongkok, terang Dokter baik itu. Aku yang mendengarkannya hanya manggut-mangut, merasa ngeri membayangkan akibat buruk yang akan terjadi pada Ashila nanti.

“Ashila butuh di fisioterapi,” lanjut Dokter. “Ini, saya kasih rekomendasi teman saya, dokter di rumah sakit X.”

Waduh, terapi di RS Ibu dan Anak yang terkenal dan cabangnya ada di mana-mana itu pasti butuh biaya tidak sedikit, pikirku.

Ketika dibicarakan serius dengan abinya anak-anak, jelas kami kebingungan. Khawatir memang dengan kondisi begini kalau akibatnya seperti yang dikatakan dokter, tapi selama ini selalu ada kebutuhan yang mendesak dan kami tidak mempunyai dana simpanan. Untuk terapi tentunya juga perlu waktu, tidak mungkin hanya sekali-dua kali pertemuan. Satu-satunya cara yaitu memilih RS yang menerima asuransi kesehatan (ASKES) sosial, bukan RS yang direkomendasikan dokter. Maklum, suami buruh pemerintah alias PNS, jadi untuk urusan kesehatan kami mengandalkan ASKES yang hanya bisa diterima pada RS negeri.

Kemungkinannya menjalani terapi di RSCM, tapi kami yang tinggal di bilangan Depok cukup jauh juga pergi ke Jalan Salemba, Jakarta. Apalagi dengan dua balita, adiknya Ashila, yang tidak mungkin dibawa-bawa ke RS membuat kami  kembali kebingungan. Belum mendapat jalan keluarnya, kami memutuskan menunda terapi untuk Ashila.

Hampir 1 tahun kemudian, aku  menderita infeksi usus buntu (Appendiksitis) dan harus dioperasi di RSUD Cibinong, Bogor. (Cerita tentang ini akan kubuat nanti. Smg masih ingat detil kejadiannya. 🙂 ) Beberapa kali kunjungan ke RS ini untuk kontrol dengan dokter poli bedah umum, aku melihat ada ruangan praktek yang sering dimasuki orang bolak-balik. Kemondar-mandiran orang memasuki ruangan yang berada dekat dengan ruang tunggu poli bedah umum tempat aku menunggu antrian dipanggil, membuatku penasaran. Tertulis pada papan nama ruangan FISIOTERAPI. Oh, orang-orang itu sedang fisioterapi, pikirku. Membaca ulang kata FISIOTERAPI, kembali teringat kondisi Ashila yang harus di fisioterapi. Terapi untuk membenarkan cara jalan Ashila yang hampir terlupakan. Seperti mendapat pencerahan, kalau dalam komik mungkin di atas kepalaku ada bola lampu dan terdengar suara Tring… Tring… 😀 “Wah Bi, Shila bisa di terapi di sini nih,” kataku semangat sambil menunjuk ruangan fisioterapi pada suami yang selalu menemani kontrol ke dokter.

“Iya.. ya… Nanti aja pas liburan sekolah,” jawab suami menyetujui.

RSUD Cibinong relatif lebih dekat dari rumah ketimbang harus ke RSCM dan juga anak-anak bisa ditinggal di rumah dengan dijaga oleh salah satu dari kami.

Memasuki liburan, hari pertama Ashila terapi diantar olehku dan suami menemani Tsaqif dan Ifa di rumah. Berbekal surat rujukan dari puskesmas/dokter keluarga, aku mendaftar di loket pendaftaran RSUD Cibinong. Aku mengambil nomor antrian untuk poli anak, karena memang Ashila dirujuknya ke dokter anak terlebih dahulu.

Pada dokter anak, kuceritakan kondisi Ashila yang jalannya selalu jinjit. Kemudian dokter anak merujuk internal ke dokter spesialis rehabilitasi medik, yang syukurnya praktek juga pada hari yang sama. Kembali mendaftar dan mengantri untuk poli rehabilitasi medik kali ini. Bolak-balik mengantri dan menunggu membuat Ashila bosan dan sedikit kesal. Dia terus memainkan game pada HP hingga baterenya habis.

Begitulah keadaan RS pemerintah semrawut, terdapat banyak pasien dan orang yang mengantar, harus mendaftar loket sana-sini, berkas kertas harus di fotokopi seperti surat rujukan puskesmas, kartu ASKES, rujukan internal, dsb. Namun, pelayanan RS ini cukup bagus dengan petugas yang ramah dan bersedia menjawab pertanyaan setiap orang, memang kadang ada yang merespons dengan ketus. Ya mungkin petugas itu capek menghadapi sebegitu banyak orang yang kadang memang pertanyaannya itu-itu saja atau yang tidak sabar mengantri dan berdiri menghalangi yang lain. Dokter dan perawatnya juga baik dan enak diajak bicara. Atau karena RS ini berada di daerah Jawa Barat yang kultur orang sunda relatif halus dalam berbicara.

Berada dalam ruangan poli rehabilitasi medik, menceritakan kondisi Ashila kepada dokter perempuan itu seperti berada dalam kontes pencarian bakat. Ashila diminta jalan ke sana-ke mari bak peragawati yang memperagakan busana dan sedang dinilai oleh juri bagaimana cara jalannya, bagus atau tidak. Dokter cantik, ramah, dan berhijab itu sedikit menegur dan menyalahkanku. Mengapa Ashila baru dibawa berobat sekarang, pada usia 7 tahun jika memang anak ini sudah berjalan jinjit sejak kecil. Seandainya dari usia 1-2 tahun diterapi akan lebih mudah karena tendon achilles/tulang rawan kakinya masih muda sehingga bisa ditarik ke bawah, begitu jelas dokter. Rupanya tendon pada tumit Ashila sedikit lebih pendek dari ukuran seharusnya sehingga membuatnya tidak nyaman berdiri dengan telapak kaki menapak, makanya dia selalu berjinjit untuk menjaga keseimbangan badannya.

Tendon Achilles atau juga dikenal sebagai tendon calcaneal atau tendo calcaneus, adalah tendon kaki belakang. Ini berfungsi untuk menempelnya otot plantaris, gastrocnemius (betis) dan otot soleus ke kalkaneus (tumit) tulang. Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Achilles_tendon

Gambar
Gambar
Gambar

“Baik, kita tetap berikhtiar aja, yang menyembuhkan kan Allah,” kata dokter SpRM itu menenangkan. “Kita terapi seminggu 3 kali, eh sekarang lagi liburan ya, kalau begitu setiap hari selama 4 kali. Nanti setelah itu ketemu saya, kontrol. Kita lihat lagi bagaimana hasilnya.”

Jadilah, liburan ini Ashila mengisinya dengan terapi fisik. Pertama kali diterapi, Ashila menangis padahal sama sekali tidak sakit hanya terasa panas pada tumit kaki. Dia sudah ketakutan duluan. Kedua, ketiga, dan keempat Ashila sudah merasa biasa aja diterapi.

Terapinya berupa pemanasan pada tendon achilles bilateral menggunakan alat ultrasound dan exercice stretching.

Mesin Ultrasound merupakan modalitas pengobatan yang digunakan oleh terapis fisik dengan memanfaatkan tinggi atau rendah frekuensi gelombang suara. Gelombang suara ini ditransmisikan ke sekitar jaringan dan pembuluh darah. Gelombang-gelombang ini menyebabkan pemanasan pada jaringan dalam hingga ke otot. Pemanasan ini akan merelaksasi jaringan yang berguna untuk mengobati kekakuan otot dan kejang. Selain itu, efek pemanasan dari gelombang suara juga membuat pelebaran pembuluh darah dan meningkatkan sirkulasi darah ke daerah sehingga membantu penyembuhan. Terapis fisik juga dapat menyesuaikan frekuensi gelombang pada mesin yang akan mengurangi peradangan. Sumber: (maaf, kelupaan menyimpan linknya)

Setelah terapi keempat, kita evaluasi bersama dokternya. Begitu dilihat, ternyata belum ada perubahan apa-apa sehingga Ashila diharuskan kembali terapi periode kedua, sebanyak 4 kali lagi. Ketika ditanya sampai berapa kali Ashila harus terapi, dokter menjawab, “Saya tidak bisa janji apa-apa ya, Bu, karena terapi ini sudah terlambat. Tetapi, kita ikhtiar maksimal aja.”

Mendengar itu, aku hanya bisa menghela nafas.

Kemungkinan Ashila disarankan menggunakan alat AFO (Ankle Foot Orthosis) pada kakinya,berupa semacam sepatu khusus. Konon, harga AFO cukup mahal dan Askes tidak menanggung biaya untuk ini.

Sebuah orthosis pergelangan kaki (AFO) adalah orthosis atau penjepit yang mengelilingi pergelangan kaki dan setidaknya bagian dari kaki. AFO berbentuk L dan eksternal diterapkan pada tungkai dan kaki. Sebuah AFO terbuat dari bahan dari logam, plastik, kulit, kain sintetis, atau kombinasi. Salah satu fungsi AFO untuk meningkatkan gerakan normal pergelangan kaki. Sumber: http://www.painfreefeet.ca/index.cfm?PAGEPATH=Orthotics/Ankle_foot_orthosis__AFO_&ID=16578

Gambar
Macam-macam jenis AFO. sumber foto: berbagai situs.

Duh, seram banget membayangkan Ashila memakai AFO. Pasti, anaknya tidak mau dan akan malu di sekolah.

3 thoughts on “Mengisi Liburan dengan Terapi Fisik

Comments are closed.