Izin Suami

Ahad, jadwal saya mengaji yang tiap pekan tidak selalu sama, kadang berubah tergantung acara anggotanya. Seperti pekan ini, jadwal mengaji yang biasa diadakan setiap pukul 8-9 pagi, dimajukan menjadi pukul 6.30 karena salah satu anggotanya–kali ini, guru–mempunyai acara lain pukul 9. Tidak masalah, jadwal berubah-ubah selama tidak banyak yang berhalangan hadir karena bentrokan acaranya.

Semula, saya ragu bisa hadir karena terlalu pagi bagi saya untuk berangkat. Biasanya, pagi hari itu repot sekali, harus mencuci baju terlebih dahulu, mencuci piring, menyiapkan sarapan, dan sebagainya. Ketika malamnya saya mengutarakan niat kepada suami kalau besok pagi saya mau berangkat mengaji, dijawab tidak masalah. Oh berarti, bisa diusahakan untuk berangkat pagi kalau begitu, segala urusan rumah tangga dikerjakan lebih awal lagi. Dan pulangnya, saya bisa mampir dulu ke pasar kaget di GDC untuk sekadar melihat-lihat barang, window shopping, pikir saya nakal, eh, pasar kaget ngga pake etalase ya.. hihihi… 😛 Soalnya ngga akan bisa saya refreshing sendiri, kalo ngga nyempatin disela-sela saya keluar rumah.

Keesokan harinya, saya berangkat mengaji dengan berbekal izin suami setelah menyediakan kopi untuknya, beres mencuci piring, menanak nasi, memutar mesin cuci yang saya tinggalkan dan akan diselesaikan oleh suami, biasanya. “Berangkat ya, bi,” yang kemudian direspons hanya dengan gumaman suami pertanda mengiyakan, hmmm… “Kalau anak-anak mau makan, tolong dibikinin mi goreng aja,” lanjut saya meninggalkan pesan. Suami hanya mengangguk.

Benar saja, mengaji selesai lebih cepat dari biasanya. Jam di Hp menunjukkan angka 8.47, ketika saya melihatnya. Wah saya mau sarapan dulu ah, karena memang perut ini belum diisi makanan sejak berangkat dari rumah saking terburu-buru. Kemudian saya membeli beberapa makanan untuk makan siang, seperti biasa hari minggu adalah hari libur masak buat saya maka kita pun selalu membeli makanan. Menunya ganti-ganti supaya ngga bosan, bisa soto mie, tongseng kambing, gado-gado, soto ayam, sop kambing, masakan padang, dan masih banyak macamnya lagi. Pada hari itu, saya pilihkan menu gado-gado untuk abi dan soto ayam untuk anak-anak.

Sesuai rencana semula setelah pulang dari mengaji, saya hendak mampir ke pasar kaget GDC di sekitaran kolam renang Aladdin. Begitu di lokasi, keadaan jalanan sepi pedagang yang biasanya banyak pemandangan tenda-tenda dagangan yang dipasang. Mungkinkah sudah selesai ini pasar? Tapi masih terlalu pagi untuk selesai bagi pasar kaget yang ada hanya seminggu sekali, pikir saya. Ya sudah, saya mampir saja ke salon yang juga berada di seputaran sana, barangkali sudah buka dan tukang potong rambutnya ada. Sulit sekali mencari waktu luang buat saya ke salon walaupun hanya sekadar untuk potong rambut, apalagi untuk segala macam treatment perawatan tubuh seperti creambath, massage, luluran, ataupun facial. Saya beruntung, begitu memasuki salon khusus perempuan ini, tukang potongnya ada di waktu yang masih pagi karena sebelumnya orang yang biasa memotong rambut di salon ini selalu datangnya siang. Langsung saja saya memutuskan untuk menggunting rambut yang sudah cukup panjang menjuntai di punggung.
“Rambutnya mau dipotong model apa bu?” tanya ramah si mbak salon.
“Segi aja biasa, rambutnya mau ditipisin,” jawab saya yang sudah merasa kegerahan dengan rambut panjang dan tebal.
“Baik, dicuci dulu ya rambutnya,” kata si mbak lagi sambil mengantarkan saya ke tempat pencucian rambut.
Shower baru membasahi rambut beberapa helai, terdengar ringtone HP berbunyi dari dalam tas yang saya taruh di bangku. Wah, pasti ini si abi telepon, kata saya dalam hati. Balik ke bangku selesai rambut dicuci, saya raih HP dalam tas. Tertera di layar nama “Aa Toto” sebagai panggilan tak terjawab.
“Assalamu’alaikum,” sapa saya begitu terdengar suara dari seberang setelah menekan tombol call back.
“Wa’alaikum salam. Ada di mana?” tanya Abi penasaran.
“Lagi di salon, Bi. Hehehe…” jawab saya cengengesan.
“Lho kok, di salon?” tanyanya kaget. “Gimana, sih? Kalau mau ngapa-ngapain, tuh bilang dulu.”
“Iya, maaf. Tadi sekalian lewat, ngga ada rencana,” kilah saya memberi alasan.
“Abi laper nih, kirain mau pulang cepat,” katanya masih kesel.
“Emangnya ngga bikin mi goreng? Anak-anak udah makan?” Saya jadi merasa bersalah.
Memang, kalau seorang ibu mau pergi, keperluan rumah harus dipersiapkan terlebih dahulu. Rumah sudah rapi dan perut seluruh anggota keluarga yang ditinggalkan dalam keadaan kenyang, baru tidak ada komplen jika ibu pergi.

Semoga sedikit kekesalan suami tidak merampas berkah dan ridha Allah atas apa yang saya lakukan pada Ahad pagi itu, walaupun saya pergi sudah mengantongi izin suami.

4 thoughts on “Izin Suami

  1. Salam kenal mbak Alia.
    Sebagai seorang istri, kita memang harus minta ijin suami bila ingin keluar rumah. Saya selalu berusaha untuk melakukannya. Kalau suami sdh di kantor saya akan menghubunginya untuk mendapatkan ijin.

    Like

Comments are closed.