Posted in Kisah

Mencoba memberikan sesuatu yang bermakna

Di lingkungan rumah, saya mengikuti sebuah arisan yang pesertanya hanya warga dua blok pada sebuah perumahan yang ada di bilangan Depok. Arisan ini sudah berdiri sejak dua tahun yang lalu, dan saat ini berlangsung arisan untuk putaran kedua. Arisan diadakan sebulan sekali, minggu kedua, sekitar jam 4 sore. Mengikuti arisan sejak putaran pertama, saya merasakan agak sedikit bosan dengan acaranya yang kurang menarik, hanya mengocok, sedikit mengobrol ngalur-ngidul ke sana ke mari yang tidak jelas, sesekali diberitahukan info-info sekitar kegiatan di blok ini. Apalagi ketika salah satu panitia arisan putaran kedua ini yang biasanya membuka acara, menolak melakukan itu. Kalau sebuah acara tanpa ada pembukaan, tiba-tiba ‘jeder’ (halah, apa sih bahasanya :-P) dikocok arisan sepertinya tidak mengenakkan. “Ya udahlah, nggak usah pake dibuka-buka. Langsung, kocok aja!” begitu katanya. Kita untuk masuk ke dalam rumah saja, harus membuka pintu terlebih dahulu. Begitu juga sebuah acara, alangkah baiknya jika dibuka terlebih dahulu dan akhir acara ditutup. Seperti yang Nabi ajarkan, setiap kita melakukan sesuatu baiknya dimulakan dengan membaca Basmalah dan diakhiri dengan mengucap Hamdalah.

Hal ini  membuat saya gemas. Apa ya yang bisa saya lakukan untuk membuat arisan ini tidak monoton, minimal ada sedikit kesan untuk terus menghadirinya. Sebenarnya sudah lama, sebuah usulan tercetus yaitu sebelum mengocok arisan kita membaca Al-Quran terlebih dahulu sekitar 1-2 ayat tiap orang, tetapi usulan ini tenggelam begitu saja tanpa ada realisasinya. Awalnya saya ragu untuk mengemukakan kembali usulan tersebut. “Malas ah, ngapain repot-repot. Biarin aja deh, terus ga menarik arisan ini. Paling cuma saya saja yang merasakan itu,” pikir saya ngga mau susah. Akan tetapi, saya pikir ulang kan hal ini bisa dijadikan jalan dakwah. Begitu saya bicarakan kepada guru dan teman-teman mengaji, mereka semua mendukung supaya saya menjalani rencana itu. “Ngga apa-apa, diomongin aja. Mungkin akan ada 1-2 orang yang tidak suka, tapi pasti banyak yang lebih suka dengan usulannya,” begitu kata guru saya.

Dengan niat karena Allah, bulan kedua arisan diadakan, saya mengutarakan dua saran untuk arisan yang kita (warga dua blok ini) cintai supaya mendapat keberkahan Allah. Deg-degan juga ketika mau bicara, “Bu-ibu, saya ada usul nih. Boleh?”

“Boleh…” kata Ibu-ibu serempak.

Dengan senyum mengembang, saya mulai berkata, “Pertama, untuk memulai arisan ini, bagaimana setiap arisan baiknya dibuka oleh tuan rumah/sohibul bait, begitu juga ditutupnya supaya ngga melulu Bu A yang membukanya. Jadi setiap orang kebagian bicara.”

Wah bener juga, ya, begitu rata-rata komentar ibu-ibu menyambut saran pertama.

“Yang kedua,” saya melanjutkan, “Agar arisan kita mendapat berkah dan diridhai Allah, bagaimana kalau setelah dibuka dan sebelum arisan dikocok, kita membaca Al-Quran dulu masing-masing 1-2 ayat, sekalian kita belajar baca Quran. Bukan mencari siapa yang hebat dan siapa yang belum bisa baca. Kita saling mengoreksi, saling membantu, sedangkan bagi yang berhalangan, bisa membaca artinya.”

Bukannya saya sok alim atau merasa paling tahu, saya hanya ingin mengajak pada kebaikan. Membaca Al-Quran bisa memberikan syafaat/pertolongan pada kita di akhirat nanti.

Sebagian mengangguk-angguk menanggapi usulan ini, sebagian lagi berkomentar miring. Kita harus wudhu dulu dong, wah bajunya nggak boleh sembarangan kalau datang arisan, harus pakai kerudung, dan banyak lagi omongan-omongan yang seakan berat sekali melakukannya. Saya menjawab ringan, “Memang, ketika kita membaca Al-Quran baiknya kita dalam keadaan berwudhu, tapi kalau memang keadaannya dadakan tidak mengurangi kebaikan kok, tetap mendapat pahala dari Allah. Misal, kita ngaji tanpa wudhu nilainya 1 dan yang punya wudhu dapat nilai 2. Semua tergantung niat, kok. Lagi pula, sebelum kita berangkat, kita sudah shalat ashar dulu, kan.”

“Bulan depan aja deh. Kita persiapan dulu, masing-masing bawa Quran,” ada yang bilang begitu.

“Kalau ditunda, saya khawatir rencana ini tidak terlaksana lagi seperti yang lalu, hanya usulan terlontar tanpa ada realisasi. Saya bawa Quran kok, gantian aja.” kata saya memberi alasan yang sedikit memaksa. Gak apa-apa kan, memaksa untuk kebaikan. Berbuat baik, janganlah ditunda-tunda, begitu kan kata Bimbo dalam lagunya :).

Sedikit keberatan, Ibu-ibu mengikuti saran saya, dengan dimulai saya yang membaca Al-Quran pertama. Dilanjutkan dengan sebelah saya, kemudian sebelahnya lagi, begitu seterusnya kita membaca Al-Quran secara bergantian sesuai lingkaran duduk kita.

Akan tetapi bulan depan, kita membaca Al-Quran tidak masing-masing secara bergantian melainkan taddarus-an, kita membacanya secara bareng-bareng sesuai usul salah satu ibu. Dengan alasan, banyak yang belum bisa baca Quran, kalau sendiri-sendiri akan kesulitan satu orang tersebut membacanya. Demi kebaikan bersama, diterima dan disepakati saran ibu itu. Semoga dengan niat karena Allah, rencana kita mendapat berkah-Nya dan berjalan lancar setiap bulannya. Amin.

Author:

Ibu dari tiga anak yang menerima order layout/setting buku. Sebagian hasil karyanya bisa dilihat pada FP www.facebook.com/pages/Alfaz-Creation/265018896864395. Juga jualan buku di http://www.facebook.com/gbb.aliafazrillah, silakan mampir...